Perang antara Amerika Serikat-Israel versus Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 memicu kenaikan harga minyak.
Berdasarkan data Investing.com, sampai hari ke-13 perang, yakni 12 Maret 2026, harga minyak mentah Brent sudah melonjak 39% dibanding sehari sebelum perang.
(Baca: Iran Terus Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus US$100 per Barel)
Kenaikan harga minyak mentah berimbas pada naiknya harga bensin di banyak negara, termasuk di Asia Tenggara.
Berdasarkan data Global Petrol Prices, negara Asia Tenggara yang paling terdampak adalah Vietnam.
Setelah sepekan perang berlangsung (9 Maret 2026), harga bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin di Vietnam tercatat sudah naik 50% dibanding sepekan sebelum perang (23 Februari 2026).
Dalam periode serupa, kenaikan harga yang signifikan juga tercatat di Laos, Kamboja, dan Singapura.
Sedangkan kenaikan harga bensin di Indonesia tergolong rendah, yakni hanya 2,8%, seperti terlihat pada grafik.
Menurut Global Petrol Prices, tingkat kenaikan harga BBM bervariasi di setiap negara karena pemerintahnya memiliki kebijakan yang berbeda-beda.
"Di negara-negara dengan pasar bahan bakar yang liberal, penyesuaian harga BBM biasanya lebih cepat," kata Global Petrol Prices di situs webnya, dikutip 13 Maret 2026.
"Di negara-negara dengan harga BBM yang diatur, biasanya pemerintah menunggu beberapa pekan untuk menentukan apakah perubahan harga minyak bersifat permanen, sebelum menyesuaikan harga ritel. Jika guncangannya besar, pemerintahnya juga mungkin melakukan intervensi untuk menekan kenaikan harga," lanjutnya.
Global Petrol Prices menghimpun data harga BBM ini dari kementerian/lembaga pemerintah, perusahaan minyak internasional, serta pemberitaan media massa di setiap negara.
(Baca: Seluruh Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Naik pada Maret 2026)