Prancis dilanda gelombang demonstrasi besar yang berkembang menjadi kerusuhan pada Sabtu (17/10/2026).
Menurut jaringan media Eropa, Euronews, kerusuhan ini dilatarbelakangi oleh protes warga setempat terkait tingginya biaya hidup.
"Gerakan rompi kuning (yellow vest movement) di Prancis—yang terdiri dari kelompok serikat pekerja dan warga—mengorganisasi aksi protes besar berskala nasional pada hari Sabtu untuk menyuarakan keberatan mereka terhadap krisis biaya hidup yang terus berlanjut serta kenaikan harga bahan bakar," diberitakan Euronews, Sabtu (17/10/2026).
"Aksi protes besar yang berlangsung di seluruh Prancis pada hari Sabtu berujung pada kekerasan di sejumlah wilayah, di mana para demonstran terlibat bentrokan dengan pihak kepolisian. Pihak berwenang menyatakan sekitar 550.000 orang berpartisipasi dalam aksi protes tersebut di seluruh negeri," kata mereka.
Kerusuhan ini terjadi di tengah meningkatnya laju inflasi.
Berdasarkan data kantor statistik Eropa, Eurostat, sejak awal 2023 sampai awal 2026 laju inflasi di Prancis sempat berfluktuasi dengan tren menurun, dari kisaran 7% (year-on-year/yoy) menjadi 0,4% (yoy).
Namun, sejak Februari 2026 laju inflasinya terus meningkat hingga mencapai 3,4% (yoy) pada September 2026. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak awal 2024, seperti terlihat pada grafik.
Menurut Le Monde, media asal Prancis, inflasi di negerinya dipengaruhi lonjakan biaya bahan bakar.
"Inflasi di Prancis melampaui 3% pada bulan September, terutama dipicu oleh lonjakan biaya energi dan bahan bakar," diberitakan Le Monde, Rabu (30/9/2026).
"Dalam beberapa pekan terakhir, harga solar telah mencapai rekor tertinggi di Prancis dan beberapa negara zona Euro lain. Hal ini terjadi akibat perang di Timur Tengah, yang telah menghambat pengiriman minyak mentah maupun olahan dari kawasan Teluk," kata mereka.
(Baca: Angka Pengangguran di Prancis Meningkat pada 2026)