226 Titik Panas Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Senin, 13 April 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 226 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 39 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (13/4/2026) pukul 11.35 WIB. Dari 226 titik panas terdeteksi, 1 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 215 titik skala sedang, dan 10 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Banjir Dominasi Bencana Alam di Indonesia Akhir Februari 2024)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Aceh sebanyak 26 titik. Sulawesi Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 23 titik. Nusa Tenggara Timur berada di posisi ketiga sebanyak 20 titik panas.
Sebanyak 17 titik panas terdeteksi di Sulawesi Barat, Sumatera Barat menyusul dengan 15 titik panas, serta Maluku Utara dan Sulawesi Tengah masing-masing memiliki 13 dan 13 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Data Jumlah Rumah Terendam Akibat Bencana Alam di RI pada 2014-2014)