Kemenhut: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 31.893 Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 23 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 31.893 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 12908 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (23/10/2026) pukul 11.53 WIB. Dari 31.893 titik panas terdeteksi, 2011 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 28900 titik skala sedang, dan 982 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Jumlah Rumah Rusak Berat karena Bencana Alam di RI 2015-2024)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 19703 titik. Kalimantan Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 1940 titik. Sumatera Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 1921 titik panas.
Sebanyak 1254 titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat, Papua Selatan menyusul dengan 1213 titik panas, serta Kalimantan Timur dan Jambi masing-masing memiliki 1013 dan 554 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Jumlah Korban Bencana Alam di Indonesia hingga 8 Juli 2025)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18.081 | +0.24 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |