Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan di Sikka Capai 12,91% pada 2025
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, prevalensi ketidakcukupan pangan (Prevalence of Undernourishment/PoU) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mencapai 12,91% pada 2025.
Angka tersebut naik 0,11% dari tahun sebelumnya sebesar 12,8%, sedangkan dalam 5 tahun terakhir turun 3,93%.
Rata-rata PoU Indonesia sebesar 7,89% pada 2025. Berarti, PoU di Kabupaten Sikka lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), PoU merupakan suatu kondisi seseorang, secara regular, mengkonsumsi jumlah makanan yang tidak cukup untuk memenuhi energi yang dibutuhkan untuk hidup normal, aktif, dan sehat.
Indikator tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk melihat kondisi kerawanan pangan dan gizi.
Ini artinya, penduduk di Kabupaten Sikka yang mengkonsumsi makanan, tetapi kebutuhan energinya kurang, tidak sampai 12,91% dari total penduduk.
Dibanding 21 kabupaten/kota lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur, PoU di Kabupaten Sikka ada di urutan ke-16. Wilayah dengan PoU terendah (urutan teratas) yakni Kabupaten Sumba Timur (8,96%) dan tertinggi (urutan terakhir) yakni Kabupaten Kupang (13,85%).
Berikut ini daftar PoU terendah di 10 kabupaten/kota Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 2025.
- Kabupaten Sumba Timur: 8,96%
- Kabupaten Sumba Tengah: 9,68%
- Kabupaten Sabu Raijua: 10,11%
- Kabupaten Sumba Barat Daya: 10,51%
- Kabupaten Manggarai: 10,85%
- Kabupaten Nagekeo: 11,24%
- Kabupaten Manggarai Barat: 11,3%
- Kabupaten Ngada: 11,35%
- Kabupaten Timor Tengah Selatan: 11,46%
- Kabupaten Sumba Barat: 11,57%
(Baca: Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 2024, Sulsel Tertinggi)