Kemenhut: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 11.772 Dalam 24 Jam Terakhir (Sabtu, 10 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 11.772 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 9174 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Sabtu (10/10/2026) pukul 11.15 WIB. Dari 11.772 titik panas terdeteksi, 578 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 10736 titik skala sedang, dan 458 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Celios: 17,4 Juta Orang Berpotensi ISPA akibat Karhutla)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 2366 titik. Sumatera Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 1901 titik. Papua Barat berada di posisi ketiga sebanyak 1232 titik panas.
Sebanyak 1031 titik panas terdeteksi di Papua Selatan, Maluku Utara menyusul dengan 704 titik panas, serta Maluku dan Kalimantan Selatan masing-masing memiliki 647 dan 612 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Update Hotspot di 6 Provinsi Prioritas Penanganan Karhutla (8 September 2026))
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.876 | -0.06 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |