Kementerian Kehutanan: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 4.882 Dalam 24 Jam Terakhir (Kamis, 29 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 4.882 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 1135 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (29/10/2026) pukul 11.50 WIB. Dari 4.882 titik panas terdeteksi, 248 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 4308 titik skala sedang, dan 326 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Sebaran Korban Meninggal karena Banjir dan Longsor di Sumatera Utara (9 Desember 2025))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Papua Selatan sebanyak 2186 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 575 titik. Sulawesi Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 415 titik panas.
Sebanyak 396 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tenggara, Maluku menyusul dengan 318 titik panas, serta Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan masing-masing memiliki 248 dan 205 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Banjir dan Karhutla, Bencana Terbanyak di Indonesia Sepanjang 2025)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18 | -0.36 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |