- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi Kalimantan dan sebagian Sumatra sepanjang sepekan terakhir, 8 Oktober 2026 hingga 15 Oktober 2026. Citra inframerah satelit VIIRS mencatat total 35.085 titik panas (hotspot) di kedua pulau, dengan 34.226 titik terdeteksi di Kalimantan dan 859 titik di Sumatra. Hari dengan jumlah titik api terbanyak tercatat pada 14 Oktober 2026 dengan 7.183 titik panas dalam 24 jam, sementara titik terendah ada pada 9 Oktober 2026 dengan 2.679 titik.
Dari sisi intensitas radiasi panas, satelit mencatat rata-rata Fire Radiative Power (FRP) sebesar 7,0 MW per titik selama sepekan. Namun satu gugus kobaran api di wilayah Kalimantan (koordinat sekitar -2,80, 110,68) sempat melepaskan energi radiasi ekstrem hingga 843,0 MW pada 11 Oktober 2026, jauh di atas rata-rata, mengindikasikan kobaran api terbuka yang hebat di lahan gambut atau vegetasi lebat, bukan sekadar bara api smoldering di bawah tanah.
Fire Radiative Power (FRP) menggambarkan laju energi panas yang dipancarkan kobaran api, dan secara empiris berkorelasi langsung dengan jumlah biomassa yang terbakar. Dalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh Wooster dkk, setiap 1 MW FRP setara dengan sekitar 0,37 kilogram vegetasi yang hangus per detik. Dengan hitungan itu, titik api 843 MW di Kalimantan berarti kobaran apinya melahap sekitar 2,3 ton vegetasi setiap detik.
Bandingkan dengan rata-rata 7,0 MW di titik-titik panas lain pekan ini, yang hanya setara sekitar 19,0 kilogram vegetasi terbakar per detik, mirip pembakaran lahan skala kecil atau sisa bakaran yang masih membara. Dengan kata lain, titik api terpanas pekan ini sekitar 120 kali lebih intens dibanding kobaran api pada umumnya yang terdeteksi di wilayah tersebut.
Data titik panas dalam analisis ini bersumber dari sensor VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite) pada satelit polar Suomi-NPP dan NOAA-20/21 (NASA FIRMS, resolusi 375 meter), yang melintas di atas Indonesia sekitar empat kali sehari sehingga data termutakhir hanya dalam hitungan 1-3 jam setelah pengamatan (Near Real-Time). Sementara animasi citra awan/asap dan arah angin pada visual di atas memakai citra satelit cuaca Himawari-9 (GeoColor, RAMMB/CIRA SLIDER milik Badan Meteorologi Jepang/JMA) yang merekam setiap 10 menit dan disusun ulang setiap 2 jam, dipadukan data angin permukaan 10 meter dari model reanalisis cuaca ERA5 (Open-Meteo).
Jumlah titik panas (hotspot) harian dibandingkan rata-rata Fire Radiative Power (FRP) harian, sumbu kiri untuk jumlah titik panas dan sumbu kanan untuk radiasi panas (MW), 7 hari terakhir.
Pola angin permukaan (10 meter) sepanjang pekan ini bergeser dari dominan bertiup dari arah Selatan pada awal pekan, menjadi dari arah Tenggara pada hari-hari terakhir, dengan kecepatan rata-rata 13,1 km/jam.
Rincian arah & kecepatan angin harian: 8 Oktober 2026 (Selatan, 13 km/jam), 9 Oktober 2026 (Selatan, 12 km/jam), 10 Oktober 2026 (Tenggara, 12 km/jam), 11 Oktober 2026 (Tenggara, 13 km/jam), 12 Oktober 2026 (Tenggara, 12 km/jam), 13 Oktober 2026 (Tenggara, 14 km/jam), 14 Oktober 2026 (Tenggara, 14 km/jam), 15 Oktober 2026 (Tenggara, 15 km/jam).
Karena angin bertiup DARI arah tersebut, asap karhutla secara konsisten terdorong ke arah berlawanan, yakni ke Barat Laut, membawa kabut asap menjauhi sumber api menuju wilayah pesisir dan perairan di sisi tersebut, dengan potensi kabut asap lintas batas apabila tren angin ini bertahan.
Animasi citra satelit Himawari-9 di atas memperlihatkan secara visual bagaimana kabut asap bergerak jam demi jam mengikuti arah angin, berbarengan dengan titik-titik panas inframerah yang menjadi sumber asap tersebut. Pemantauan gabungan citra awan/asap, titik panas, dan vektor angin ini membantu mengidentifikasi wilayah yang berisiko terdampak paparan asap dalam waktu dekat, sekaligus menjadi dasar bagi otoritas setempat untuk mengambil langkah mitigasi lebih awal.
Di linimasa, warga menulis asap yang kian pekat
Angka-angka satelit itu punya padanan di media sosial. Selama 8-15 Oktober 2026, pemantauan percakapan di TikTok, Instagram, Threads, dan X merekam 6.413 unggahan dan komentar tentang karhutla dan kabut asap. Volume harian melonjak dari sekitar 100 konten pada 8 Oktober menjadi 4.434 pada 14 Oktober, hari yang sama ketika satelit mencatat 7.183 titik panas, terbanyak dalam sepekan. Posting di sosial media ini diambil secara random dalam tiga hari terakhir.
Percakapan karhutla di media sosial melonjak sejak 12 Oktober. Sumber: pemantauan media sosial (X, TikTok, Instagram, Threads), 8-15 Oktober 2026; sentimen dihitung dari konten yang berlabel.
"Awalnya asapnya putih tebal, lama-lama makin pekat jadi kuning kecokelatan," tulis seorang warga Palangka Raya di Instagram pada 11 Oktober. Ia menyebut warga sudah merasakan asap sejak Juli. Dua hari kemudian, unggahan media lokal dan video warga memperlihatkan langit kota itu berubah kuning hingga oranye. Di Marabahan, Kalimantan Selatan, pengendara disebut meraba jalan dengan jarak pandang yang nyaris nol dan mengandalkan klakson.
Keluhan serupa muncul jauh dari Kalimantan. Warga di Medan, Padang, Simalungun, dan Manado mengunggah foto kabut di kota masing-masing, sementara akun media Malaysia melaporkan kabut asap tebal di Kuala Lumpur pada 14 Oktober. Penyebab kabut di tiap kota belum tentu sama, karena Sumatra juga memiliki titik panasnya sendiri. Namun laporan dari Malaysia sejalan dengan arah angin tenggara yang mendorong asap ke barat laut sepanjang pekan ini.
ISPA dan kecemasan orang tua
Kesehatan menjadi salah satu isu yang paling sering dibahas, dengan sekitar 7,8 persen dari seluruh konten, dan 72 persen konten berlabel bernada negatif. Sejumlah akun media mengutip data Kementerian Kesehatan: 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak hingga 13 Oktober, termasuk 63.711 kasus pada balita. Angka itu belum diverifikasi independen oleh redaksi.
Di kolom komentar, cerita lebih personal. Orang tua menulis tentang bayi yang batuk, mata anak yang perih, dan kekhawatiran pada ibu hamil serta lansia. Seorang guru di Palangka Raya, dalam unggahan KompasTV Banjarmasin, mengaku cemas terhadap risiko gangguan pernapasan karena guru tetap diminta datang ke sekolah, sementara murid belajar dari rumah.
Kenapa api sulit padam: kekurangan air dan bara di bawah tanah
Pertanyaan yang paling sering diajukan warga adalah mengapa api tak kunjung padam. Unggahan di media sosial menyebut beberapa penyebab. Pertama, sumber air. Menurut unggahan KompasTV Banjarmasin, pemadaman di Palangka Raya terkendala minimnya sumber air di lapangan dan angin kencang yang membuat api cepat mendekati permukiman. Seorang warga Pulang Pisau menulis bahwa sungai-sungai yang surut membuat pesawat pemadam sulit mengambil air.
Kedua, api di lahan gambut. "Api di permukaan sudah padam, tapi di bawah masih membara," tulis akun relawan Banser di X pada 14 Oktober. Hal ini sejalan dengan data satelit di atas, yaitu satu gugus api di Kalimantan sempat melepaskan energi hingga 843 MW. Kondisi tersebut membuat banyak warga menilai hanya hujan yang bisa menuntaskan kebakaran. Doa meminta hujan memenuhi kolom komentar sepanjang pekan.
Tema yang paling banyak disorot warga; satu konten dapat masuk lebih dari satu tema. Sumber: pemantauan media sosial (X, TikTok, Instagram, Threads), 8-15 Oktober 2026; sentimen dihitung dari konten yang berlabel.
Sorotan pada pejabat dan status bencana
Tema terbesar dalam percakapan bukan soal api, melainkan respons pejabat: sekitar 16,6 persen konten, dengan 73 persen berlabel negatif. Pemicunya antara lain pernyataan sejumlah gubernur di Kalimantan, seperti kondisi karhutla yang "tidak parah" dan udara yang "aman terkendali". Gubernur Kalimantan Tengah, menurut unggahan media, menilai karhutla belum perlu berstatus bencana nasional karena aktivitas warga masih berjalan, meski kasus ISPA naik sekitar 30-40 persen. Dalam unggahan KompasTV, Menko Polkam juga menyebut pemerintah belum berencana menetapkan status itu dan "masih mampu" mengatasinya.
Di kolom komentar, tuntutan agar status dinaikkan terus berulang. Tawaran bantuan Malaysia ikut ramai dibahas. Menurut unggahan Sindonews, Kemenko Polkam menegaskan Indonesia tidak menolak bantuan itu dan komunikasi masih berjalan lewat jalur diplomatik. Sebagian warga juga menyinggung peran perusahaan dan pembakar lahan, tetapi klaim tentang penyebab kebakaran itu masih sebatas opini di media sosial dan belum terverifikasi.
Jumlah konten per tema dan per hari. Sumber: pemantauan media sosial (X, TikTok, Instagram, Threads), 8-15 Oktober 2026; sentimen dihitung dari konten yang berlabel.
Catatan: hasil ini menggambarkan percakapan di media sosial, bukan survei representatif maupun kondisi lapangan. Tema dipetakan dengan kata kunci sehingga satu konten bisa masuk lebih dari satu tema, dan label sentimen hanya tersedia untuk sebagian konten.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.944 | +0.25 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |