Kementerian Kehutanan: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 21.708 Dalam 24 Jam Terakhir (Selasa, 6 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 21.708 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 3132 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Selasa (6/10/2026) pukul 11.15 WIB. Dari 21.708 titik panas terdeteksi, 1120 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 19354 titik skala sedang, dan 1234 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.6 M Guncang 128 Km Utara Dari Lae, Papua)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 7384 titik. Sumatera Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 2662 titik. Papua Barat berada di posisi ketiga sebanyak 2122 titik panas.
Sebanyak 1746 titik panas terdeteksi di Papua Selatan, Maluku menyusul dengan 1276 titik panas, serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur masing-masing memiliki 1102 dan 930 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Lima Gempa Bumi Terakhir yang Tercatat di BMKG (Sabtu, 19 Juli 2025 13:53:43 WIB))
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18 | +0.05 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |