Kementerian LHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 282 Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 2 Mei 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 282 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (2/5/2025) pukul 11.50 WIB. Dari 282 titik panas terdeteksi, 2 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 276 titik skala sedang, dan 4 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Penerima Rumah Susun 2022, Terbanyak Korban Bencana Alam)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Sumatera Selatan sebanyak 36 titik. Maluku Utara menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 36 titik. Kepulauan Bangka Belitung berada di posisi ketiga sebanyak 28 titik panas.
Sebanyak 22 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan menyusul dengan 17 titik panas, serta Kalimantan Barat dan Jawa Tengah masing-masing memiliki 16 dan 15 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Papua Barat Catat Jumlah Rumah Rusak Sedang akibat Bencana Alam Sebanyak 3 Unit)