Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data triwulanan PDRB ADHB sektor Transportasi dan Pergudangan Sulawesi Utara periode hingga Maret 2026. Pada kuartal I 2026, nilai sektor ini tercatat 6113,6 Rp miliar. Dari catatan historis sejak 2010, nilai sektor ini menunjukkan tren kenaikan konsisten dengan total peningkatan sebesar 559,72% selama 16 tahun. Rata-rata pertumbuhan 3 kuartal terakhir tercatat 1,98%, angka ini lebih rendah dibanding rata-rata pertumbuhan seluruh periode sebesar 3,74%, namun lebih baik dibanding rata-rata 5 kuartal terakhir yang hanya 0,94%.
(Baca: Penduduk Kabupaten Kepulauan Aru Menghabiskan Rp159 per Kapita per Minggu untuk Membeli Kelapa)
Pada kuartal terakhir, Sulawesi Utara tetap menempati peringkat 2 di wilayah Pulau Sulawesi, dengan peringkat nasional berada di urutan 12. Tercatat terjadi penurunan nilai sebesar 12,03% dibanding kuartal IV 2025 yang sempat mencatatkan rekor nilai tertinggi sepanjang sejarah sebesar 6949,55 Rp miliar. Penurunan terbesar sepanjang catatan data terjadi pada kuartal II 2020 dengan kontraksi 25,86%, sementara kenaikan tertinggi tercatat pada kuartal I 2022 dengan pertumbuhan positif 41,54%.
Selama 65 periode triwulanan yang tercatat, sebanyak 45 periode menunjukkan pertumbuhan positif dan hanya 19 periode mengalami kontraksi. Nilai akhir saat ini berada di atas rata-rata historis sebesar 3110,62 Rp miliar. Selama 5 kuartal terakhir, fluktuasi nilai terjadi cukup tajam dengan selisih perubahan antar kuartal dapat mencapai lebih dari 800 Rp miliar, berbeda dengan 3 kuartal terakhir yang menunjukkan pergerakan nilai lebih landai.
Sumatera Barat
Sumatera Barat menempati peringkat 9 nasional pada kuartal terakhir dengan nilai PDRB Transportasi dan Pergudangan sebesar 9938,46 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan 9,75% dibanding kuartal sebelumnya, menjadi pertumbuhan tertinggi diantara seluruh provinsi yang tercatat dalam data perbandingan. Nilai wilayah ini hampir 1,6 kali lipat nilai Sulawesi Utara pada periode yang sama, dengan selisih nilai mencapai 3824,86 Rp miliar. Peringkat pulau Sumatera wilayah ini berada di urutan 3.
Bali
Bali menduduki peringkat 10 nasional dengan nilai sektor ini tercatat 8660,71 Rp miliar. Pertumbuhan kuartal terakhir wilayah ini sebesar 2,06%, lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan 5 kuartal terakhir Sulawesi Utara. Sebagai wilayah terbesar di grup Nusa Tenggara dan Bali, Bali menempati peringkat pertama di pulau nya. Nilai sektor transportasi dan pergudangan Bali 41,7% lebih tinggi dibanding nilai Sulawesi Utara pada periode Maret 2026.
(Baca: Bahan Bangunan Seperti Amplas kertas, Stop kontak, dan Kunci gembok/gantung dari besi atau baja pada September 2026 Rata-rata Naik 5,02%)
Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan merupakan pemimpin tertinggi di wilayah Pulau Sulawesi dengan peringkat 11 nasional. Nilai sektor transportasi dan pergudangan wilayah ini tercatat 8512,62 Rp miliar pada kuartal terakhir, atau sekitar 39,2% lebih tinggi dibanding Sulawesi Utara. Meskipun demikian, Sulawesi Selatan mengalami kontraksi sebesar 2,36% pada kuartal terakhir, satu-satunya wilayah di Pulau Sulawesi yang mencatatkan pertumbuhan negatif pada periode tersebut.
Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan menempati peringkat 13 nasional dengan nilai PDRB Transportasi dan Pergudangan sebesar 5600,03 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan kontraksi sebesar 4% dibanding kuartal sebelumnya, dengan peringkat ke-2 di wilayah Pulau Kalimantan. Nilai wilayah ini sedikit lebih rendah dibanding Sulawesi Utara, dengan selisih nilai sebesar 513,57 Rp miliar pada kuartal Maret 2026.
Sumatera Selatan
Sumatera Selatan berada di peringkat 14 nasional dengan nilai sektor ini tercatat 4657,13 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,9% pada kuartal terakhir, dengan peringkat ke-4 di wilayah Pulau Sumatera. Nilai transportasi dan pergudangan Sumatera Selatan 23,8% lebih rendah dibanding nilai yang dicatatkan Sulawesi Utara pada periode yang sama.
Kalimantan Tengah
Kalimantan Tengah menduduki peringkat 15 nasional dengan nilai PDRB Transportasi dan Pergudangan sebesar 4563,35 Rp miliar. Wilayah ini mengalami kontraksi sebesar 6,87% pada kuartal terakhir, menjadi penurunan terbesar diantara seluruh provinsi dalam data perbandingan. Peringkat wilayah ini berada di urutan 3 di Pulau Kalimantan, dengan nilai 25,4% lebih rendah dibanding Sulawesi Utara pada periode Maret 2026.