Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase desa dengan jaringan sinyal 3G/H/H+/EVDO di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pada akhir tahun 2025 berada di angka 1,09 Persen. Data historis menunjukkan tren penurunan konsisten sejak 2018, dimana nilai tertinggi sepanjang periode tercatat pada 2018 sebesar 42,39 Persen. Selama periode pengamatan, tidak terdapat satu periode pun yang mengalami kenaikan nilai, dengan total penurunan mencapai 97,43 persen secara keseluruhan sejak data pertama dicatat.
Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir tercatat minus 47,09 persen per tahun, kondisi ini lebih buruk dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang mencatat minus 41,43 persen per tahun. Pada tahun 2025, nilai persentase sinyal desa ini berada jauh di bawah rata-rata seluruh periode yang sebesar 15,835 Persen. Peringkat Kabupaten Kebumen di lingkungan Pulau Jawa pada 2025 berada di urutan 46, membaik 16 peringkat dibandingkan posisi tahun 2024 yang berada di urutan 62. Secara nasional, peringkat tahun 2025 berada di urutan 348 dari seluruh kabupaten di Indonesia.
Anomali tercatat pada periode 2024 menuju 2025, dimana nilai persentase sinyal desa tidak mengalami penurunan sama sekali dengan pertumbuhan 0 persen. Hal ini menjadi satu-satunya periode stagnan sepanjang catatan data, setelah sebelumnya terjadi penurunan berturut-turut selama 4 periode. Sebelum periode stagnan ini, penurunan terbesar terjadi pada tahun 2021 dengan penurunan mencapai 54,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabupaten Bogor
Kabupaten Bogor mencatat nilai persentase desa bersinyal 3G pada tahun terakhir sebesar 1,15 Persen, dengan penurunan pertumbuhan sebesar 37,5 persen dibandingkan periode sebelumnya. Wilayah ini menempati peringkat 45 di lingkungan Pulau Jawa, serta peringkat 345 secara nasional. Nilai Kabupaten Bogor sedikit lebih tinggi dibandingkan catatan Kabupaten Kebumen, dengan selisih nilai sebesar 0,06 Persen, dan menempati peringkat satu tingkat lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Kebumen di skala Pulau Jawa.
Kabupaten Lampung Selatan
Kabupaten Lampung Selatan yang berada di Pulau Sumatera memiliki nilai persentase sama dengan Kabupaten Bogor yakni 1,15 Persen pada tahun terakhir, namun mengalami penurunan jauh lebih besar yaitu 62,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini menempati peringkat 122 di Pulau Sumatera serta peringkat 345 secara nasional, sejajar dengan Kabupaten Bogor. Penurunan yang terjadi di wilayah ini dua kali lebih besar dibandingkan penurunan yang terjadi di Kabupaten Bogor pada periode yang sama.
Kabupaten Kepulauan Tanimbar
Kabupaten Kepulauan Tanimbar wilayah Maluku mencatat nilai 1,12 Persen pada tahun terakhir, dengan pertumbuhan 0 persen atau stagnan sama persis dengan kondisi Kabupaten Kebumen. Wilayah ini menempati peringkat 16 di Pulau Maluku dan peringkat 347 secara nasional, dua peringkat di bawah Kabupaten Kebumen. Tidak ada perubahan nilai sama sekali yang tercatat di wilayah ini selama satu periode pengamatan terakhir.
Kabupaten Bekasi
Kabupaten Bekasi wilayah Jawa mencatat nilai persentase desa bersinyal 3G sebesar 1,07 Persen pada tahun terakhir, juga mengalami kondisi stagnan dengan pertumbuhan 0 persen. Wilayah ini menempati peringkat 47 di lingkungan Pulau Jawa, satu tingkat di bawah peringkat Kabupaten Kebumen. Secara nasional Kabupaten Bekasi berada di urutan 349, satu peringkat dibawah posisi Kabupaten Kebumen di daftar seluruh kabupaten Indonesia.
Kabupaten Nganjuk
Kabupaten Nganjuk wilayah Jawa mencatat nilai 1,06 Persen pada tahun terakhir, mengalami penurunan sebesar 25,01 persen dibandingkan periode sebelumnya. Wilayah ini menempati peringkat 48 di Pulau Jawa, dua tingkat di bawah Kabupaten Kebumen. Secara nasional wilayah ini menempati urutan 350, dengan selisih nilai hanya 0,03 Persen dibawah catatan nilai Kabupaten Kebumen pada tahun yang sama.
Kabupaten Kendal
Kabupaten Kendal wilayah Jawa mencatat nilai terendah dari seluruh daftar perbandingan yaitu sebesar 1,05 Persen pada tahun terakhir, dengan penurunan mencapai 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini menempati peringkat 49 di Pulau Jawa, tiga tingkat dibawah Kabupaten Kebumen, serta peringkat 351 secara nasional. Penurunan yang terjadi di Kabupaten Kendal lebih besar dibandingkan penurunan yang terjadi di Kabupaten Bogor dan Nganjuk pada periode yang sama.