Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pekerja di sektor transportasi dan pergudangan di Sumatera Utara pada tahun 2024 sebanyak 198.002 pekerja. Jumlah ini menunjukkan peningkatan sebesar 0.38% atau sebanyak 750 pekerja dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini tergolong paling rendah dalam lima tahun terakhir. Secara historis, jumlah pekerja di sektor ini mengalami fluktuasi, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2017 sebesar 12.71% dan pertumbuhan terendah pada tahun 2024.
Rata-rata pertumbuhan jumlah pekerja dalam tiga tahun terakhir (2022-2024) adalah 8.36%, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan lima tahun terakhir (2020-2024) sebesar 10.40%. Hal ini mengindikasikan adanya perlambatan pertumbuhan sektor ini dalam beberapa tahun terakhir. Anomali terjadi pada tahun 2016 dengan pertumbuhan 2185.59%, diikuti penurunan pada tahun 2018 turun 5.78%.
(Baca: Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses terhadap Hunian Layak dan Terjangkau Periode 2015-2025)
Secara regional, Sumatera Utara menempati peringkat pertama di Pulau Sumatera untuk jumlah pekerja di sektor transportasi dan pergudangan pada tahun 2024. Namun, secara nasional, Sumatera Utara berada di peringkat ke-6. Peringkat dan nilai ini sama dengan tahun sebelumnya, menunjukkan posisi yang relatif stabil dalam skala nasional.
Kenaikan tertinggi dalam periode 2015-2024 terjadi pada tahun 2017 dengan penambahan 117.182 pekerja, sementara kenaikan terendah terjadi pada tahun 2024 dengan penambahan hanya 750 pekerja. Fluktuasi ini menunjukkan dinamika sektor transportasi dan pergudangan di Sumatera Utara yang dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan sosial.
Meskipun terjadi fluktuasi, sektor transportasi dan pergudangan tetap menjadi sektor penting di Sumatera Utara. Data ini memberikan gambaran mengenai kondisi ketenagakerjaan di sektor ini dan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan kebijakan yang tepat untuk mendorong pertumbuhan dan pengembangan sektor ini di masa depan.
Jawa Timur
Jawa Timur menempati peringkat ke-3 secara nasional dengan jumlah pekerja di sektor transportasi dan pergudangan sebanyak 322.726 pekerja. Meskipun menduduki posisi yang cukup tinggi, Jawa Timur mengalami penurunan sebesar 12.68% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini setara dengan 46.883 pekerja dan berdampak pada dinamika ketenagakerjaan di provinsi tersebut.
(Baca: PDRB ADHB Sektor Penyediaan Makan Minum Periode 2013-2024)
DKI Jakarta
DKI Jakarta berada di peringkat ke-4 secara nasional dengan 273.936 pekerja di sektor transportasi dan pergudangan. Provinsi ini mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 14.62% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan peluang kerja di sektor ini di ibu kota.
Banten
Banten menduduki peringkat ke-5 secara nasional, dengan jumlah pekerja di sektor transportasi dan pergudangan mencapai 201.500 orang. Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi sedikit penurunan sebesar 0.23%, yang menunjukkan bahwa sektor ini relatif stabil namun tidak mengalami pertumbuhan signifikan. Stabilitas ini bisa menjadi indikasi pasar yang matang atau adanya tantangan pertumbuhan yang perlu diatasi.
Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan berada di peringkat ke-7 secara nasional dengan jumlah pekerja di sektor transportasi dan pergudangan sebanyak 122.073 orang. Provinsi ini mengalami pertumbuhan yang signifikan, yaitu sebesar 33.33%, menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan penyerapan tenaga kerja di sektor ini. Pertumbuhan ini menjadikannya salah satu wilayah dengan peningkatan tertinggi.
Lampung
Lampung berada di peringkat ke-8 secara nasional, mencatat 117.092 pekerja di sektor transportasi dan pergudangan. Provinsi ini mengalami pertumbuhan yang kuat sebesar 50.7%, menandakan perkembangan pesat di sektor ini. Pertumbuhan yang signifikan ini menunjukkan potensi besar dan peningkatan investasi di sektor terkait di Lampung.
Sumatera Barat
Sumatera Barat berada di peringkat ke-9 secara nasional dengan jumlah pekerja 65.090 orang. Terjadi penurunan tipis sebesar 2.89% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan adanya tantangan atau perubahan dalam dinamika sektor transportasi dan pergudangan di wilayah tersebut.