Realisasi Investasi DKI Jakarta 2025 Capai Rp270,93 Triliun, Rekor Baru Sedekade
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Menurut data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi di Provinsi DKI Jakarta mencapai Rp270,93 triliun pada 2025.
Nilai itu merupakan gabungan dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp175,28 triliun (64,70% dari total) dan penanaman modal asing (PMA) Rp95,65 triliun (35,30%).
Realisasi pada 2025 tumbuh 12,02% (year-on-year/yoy) dibanding 2024 yang sebesar Rp241,85 triliun, serta menjadi rekor tertinggi baru selama periode 2016-2025.
Secara historis, sejak 2016 hingga 2019, realisasi investasi di DKI Jakarta konsisten tumbuh. Penurunan sempat terjadi pada 2020 atau tahun pertama pandemi Covid-19, namun kembali menguat pada 2021 sampai 2025.
(Baca: Jakarta, Provinsi dengan Skor Indeks Literasi Keuangan Tertinggi 2026)
Realisasi investasi DKI Jakarta pada 2025 terbesar berasal dari sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi yang mencapai Rp93,42 triliun, setara 34,48% dari total.
Berikut rincian realisasi investasi gabungan PMDN dan PMA di Provinsi DKI Jakarta pada 2025 berdasarkan sektor:
- Transportasi, gudang, dan telekomunikasi: Rp93,42 triliun;
- Jasa lainnya: Rp63,15 triliun;
- Perdagangan dan reparasi: Rp34,89 triliun;
- Konstruksi: Rp21,37 triliun;
- Perumahan, kawasan Industri, dan perkantoran: Rp21,17 triliun;
- Pertambangan: Rp11,82 triliun;
- Hotel dan restoran: Rp8,14 triliun;
- Industri kimia dan farmasi: Rp4,67 triliun;
- Listrik, gas, dan air: Rp3,62 triliun;
- Industri makanan: Rp2,44 triliun;
- Industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain: Rp1,39 triliun;
- Industri kertas dan percetakan: Rp1,08 triliun;
- Industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam: Rp1,08 triliun;
- Industri lainnya: Rp776,80 miliar;
- Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya: Rp428,28 miliar;
- Industri mineral non-logam: Rp334,46 miliar;
- Perikanan: Rp322,97 miliar;
- Industri tekstil: Rp274,92 miliar;
- Tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan: Rp260,11 miliar;
- Industri karet dan plastik: Rp152,66 miliar;
- Kehutanan: Rp116,71 miliar;
- Industri barang dari kulit dan alas kaki: Rp10,20 miliar; dan
- Industri kayu: Rp4,55 miliar.
(Baca: HUT ke-499 Jakarta, Bagaimana Tingkat Pembangunan Manusianya?)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18 | +0.52 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |