S&P Global melaporkan, skor Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat sebesar 50,2 poin pada Juli 2026.
Indeks yang menilai kinerja manufaktur tersebut didapatkan dari survei terhadap kalangan manajer dengan ratusan sampel perusahaan di industri manufaktur. Indikator surveinya meliputi pertumbuhan volume produksi, pesanan ekspor dan domestik, jumlah tenaga kerja, jangka waktu pengiriman pasokan, serta stok bahan yang dibeli setiap perusahaan.
Skala skor ditetapkan sebesar 0-100 poin. Skor di bawah 50 mencerminkan adanya pelemahan atau kontraksi; skor 50 artinya stabil atau tak ada perubahan; dan skor di atas 50 menunjukkan penguatan atau ekspansi dibanding bulan sebelumnya.
Nilai pada Juli 2026 ini menguat dari bulan sebelumnya yang hanya 46,9 poin. Dengan perolehan ini, kondisi manufaktur Indonesia berada di level ekspansi.
Dalam laporannya, anggota panel S&P Global mengindikasikan bahwa membaiknya kondisi permintaan dan kepercayaan klien mendukung pertumbuhan bisnis manufaktur Indonesia. Akan tetapi, pemulihan yang lebih kuat tertahan oleh kenaikan harga bahan baku yang terus berlanjut.
"Ketika penjualan meningkat, perusahaan mengaitkannya dengan kepercayaan klien yang lebih kuat serta peluncuran proyek-proyek baru," kata tim riset.
Dari sisi produksi, walaupun permintaan mulai stabil, tekanan terhadap kapasitas meningkat dan menyebabkan penumpukan tunggakan pekerjaan (backlogs of work).
"Bahkan, kenaikan ini merupakan yang paling signifikan sejak November 2025," kata S&P Global.
(Baca: PMI Manufaktur RI Terkontraksi di Level 46,9, Terendah sejak Awal 2026)
Sejalan, produsen pun menurunkan pembelian barang pada Juli 2026 buntut tingginya harga bahan baku dan terbatasnya pasokan.
Inventaris praproduksi juga turun sebagai bagian dari upaya menyesuaikan dengan kondisi permintaan. Sedangkan inventaris pascaproduksi juga turun karena produsen berusaha menggunakan stok yang ada untuk membantu memenuhi pesanan.
Faktor-faktor itu yang membuat perusahaan memilih untuk tidak menyimpan bahan baku selama volume pesanan baru masih lemah.
Dari sisi ekonomi makro, produsen barang di Indonesia mengindikasikan kenaikan harga bahan baku pada periode survei terbaru. Tingkat inflasi tercatat signifikan, namun merupakan yang terendah dalam empat bulan terakhir.
"Inflasi biaya umumnya dikaitkan dengan tingginya harga bahan baku di dalam maupun luar negeri, namun faktor luar negeri diperparah oleh penguatan Dolar AS yang mendongkrak biaya barang-barang impor," kata S&P Global.
Perusahaan pun berupaya meneruskan kenaikan biaya bahan baku tersebut kepada pembeli dengan kembali menaikkan harga jual di tingkat pabrik (factory gate charges) secara tajam.
Sementara dari sisi ketenagakerjaan, perusahaan meningkatkan jumlah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan, meski hanya secara marjinal.
S&P Global meyakini, manufaktur Indonesia menunjukkan optimisme terkait prospek untuk tahun mendatang. Ini berkat tingkat kepercayaan tercatat kuat dan meningkat ke level tertingginya sejak bulan Januari.
"Optimisme ini didorong oleh harapan bahwa pertumbuhan penjualan dan kepercayaan pelanggan akan semakin menguat, serta harapan akan meredanya tekanan harga," kata S&P Global.
(Baca: BPS: Industri Manufaktur Indonesia Ekspansif pada Kuartal II 2026)