Kebakaran Hutan 30 Hari, Kalteng Episentrum Terparah
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Kabar duka kebakaran hutan terus berlangsung selama 30 hari di Kalimantan. Lima provinsi menurut satelit pemantau bumi terus membara tanpa henti sepanjang hari dari 13 September hingga kemarin 12 Oktober 2026. Data analitik penginderaan jauh mencatat akumulasi fantastis sebanyak 114,352 titik panas (hotspot) yang melahap kawasan hutan tropis dan lahan gambut di seluruh penjuru pulau Borneo tersebut, dengan rata-rata kemunculan mencapai 3,811.7 titik api setiap hari.
Pemantauan kebakaran hutan ini mengandalkan sensor VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite) yang terpasang pada wahana antariksa polar orbit Suomi-NPP dan NOAA-20/21 hasil kolaborasi NASA dan NOAA. Berbeda dengan sensor generasi lawas MODIS yang memiliki resolusi 1 kilometer, sensor VIIRS memiliki resolusi spasial tinggi hingga 375 meter per piksel pada kanal inframerah termal (I4 di panjang gelombang 3,9 µm dan I5 di 11,4 µm).
Kanal inframerah gelombang pendek ini memungkinkan sensor menembus selimut kabut asap tebal di siang hari sekaligus mengidentifikasi anomali temperatur tanah secara presisi. Tingkat intensitas kebakaran diukur menggunakan parameter Fire Radiative Power (FRP) dalam satuan MegaWatt (MW), yang menghitung laju pelepasan energi radiasi panas secara langsung sebagai indikator biomassa yang hangus terbakar. Lintasan malam hari (nighttime overpass) memberikan akurasi sangat tinggi karena mampu menangkap bara api pembakaran lambat (smoldering) di lapisan bawah tanah gambut tanpa terganggu silau pantulan sinar matahari.
Dari lima provinsi di Pulau Kalimantan, sebaran api menunjukkan konsentrasi yang sangat tinggi terjadi di semua provinsi. Kalimantan Tengah menjadi episentrum kebakaran paling masif mencatatkan 71,660 titik panas, atau menyumbang 62.7% dari total akumlatif titik api di pulau ini selama 30 hari. Posisi kedua ditempati oleh Kalimantan Barat dengan 18,439 titik panas (16.1%), disusul oleh Kalimantan Timur sebanyak 15,820 titik (13.8%). Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat 7,115 titik api (6.2%), dan wilayah utara yakni Kalimantan Utara mencatatkan angka relatif terendah sebesar 1,318 titik panas (1.2%).
Dinamika kebakaran satu bulan memperlihatkan fluktuasi tajam. Puncak kebakaran tertinggi tercatat pada tanggal 2026-09-19, di mana sensor satelit mendeteksi lonjakan ekstrem hingga 8,977 titik panas hanya dalam tempo 24 jam. Sebaliknya, titik api terendah terpantau pada 2026-10-09 dengan jumlah 1,053 titik panas, menyusul turunnya hujan berintensitas sedang yang sempat membasahi sebagian wilayah gambut dan meningkatkan tutupan awan tebal.
Menariknya, kebakaran paling intens tercatat pada 2026-10-11 di wilayah Kalimantan Barat, di mana satu gugus kobaran api menghasilkan Fire Radiative Power mencapai 843.0 MW—level energi radiasi raksasa yang mengindikasikan kobaran api terbuka hebat di atas hamparan vegetasi lebat.
Rekam jejak historis 30 hari memperlihatkan pola kebakaran dua gelombang (two-wave surge). Gelombang krisis pertama menghantam Kalimantan pada pekan kedua hingga ketiga September, dipicu oleh puncak musim kemarau dan penurunan drastis kelembapan tanah gambut. Kebakaran sempat melandai pada akhir September seiring jeda anomali cuaca lokal, sebelum kembali melonjak memasuki pekan awal Oktober dengan intensitas yang tak kalah parah.
Kebakaran gambut yang membara di kedalaman lapisan tanah ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati dan melepaskan jutaan ton karbon ke atmosfer, tetapi juga memicu lonjakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang membahayakan kesehatan jutaan warga serta berpotensi memicu kabut asap lintas batas (transboundary haze) ke negara tetangga.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.925 | +0.18 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |