18.576 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Senin, 5 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 18.576 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 3491 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (5/10/2026) pukul 11.15 WIB. Dari 18.576 titik panas terdeteksi, 860 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 16693 titik skala sedang, dan 1023 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Mayoritas Warga Indonesia Akses Informasi Kualitas Udara dari Media Sosial)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 5179 titik. Sumatera Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 2823 titik. Papua Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 2135 titik panas.
Sebanyak 1424 titik panas terdeteksi di Papua Barat, Maluku Utara menyusul dengan 1172 titik panas, serta Maluku dan Kalimantan Selatan masing-masing memiliki 849 dan 823 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Meski Sudah Diguyur Hujan, Kualitas Udara Jakarta Masih Buruk)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18 | -0.33 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |