10 Maret 2018 | 06:42
Nazmi Haddyat Tamara
adalah Data Analyst dan Statistician Katadata. Saat ini, dia mengisi posisi tim Data pada divisi Riset dan Data Katadata. Menempuh pendidikan pada jurusan Statistika IPB dan telah berpengalaman dalam pengolahan dan analisis data pada berbagai topik.
Kebijakan Holding Migas Mengerek Harga Saham PGN?
Wacana pembentukan holding BUMN Migas menjadi salah satu sentimen positif bagi PGN. Harga saham dengan kode PGAS ini selalu mengalami kenaikan setiap terjadi perkembangan kebijakan holding tersebut.

Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah memproses pembentukan holding BUMN. Tujuannya, untuk mempermudah proses konsolidasi BUMN, meningkatkan efisiensi penyertaan modal negara dan meningkatkan pengusaan terhadap sumber daya alam.

Salah satu holding yang dibentuk adalah holding minyak dan gas (Migas). Dalam holding ini, PT Pertamina (Persero) akan menjadi induk dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk sebagai anggota holding. Penunjukkan Pertamina sebagai induk holding dikarenakan 100 persen sahamnya dikuasai negara, berbeda dengan PGN yang 43 persen sahamnya dimiliki publik.

Nantinya, PGN akan membawahi perusahaan gas milik Pertamina yakni PT Pertamina Gas (Pertagas) dan akan mengelola bisnis gas mulai dari midstream (tengah) hingga downstream (hilir). Upaya ini diharapkan dapat membuat bisnis gas semakin baik. Ujungnya harga gas juga makin murah bagi konsumen akhir.

Kinerja Saham PGN

Sebagai perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham PGN ikut mendapatkan efek dari kebijakan holding migas. Perusahaan dengan kode saham PGAS ini sempat berfluktuasi mengikuti isu holding ini.

Sejak awal tahun lalu, sejatinya harga saham PGAS sempat menyentuh titik terendah Rp 1.450 pada 10 Oktober 2017. Harga tertinggi pada tahun lalu berada di angka Rp 3.010. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan sejarah PGAS yang pernah mencapai angka Rp 6.000 pada 2013.

Posisi fundamental dan kinerja keuangan yang kurang cemerlang sepanjang periode 2013-2017 menjadi salah satu alasannya. Laba bersih PGAS terus menurun dalam lima tahun terakhir. Bahkan laba bersih tahun 2017 sudah berada pada titik terendah sejak tahun 2013.

Berdasarkan laporan keuangannya, PGAS mencatatkan laba bersih sebesar US$ 143,15 juta atau setara Rp 1,92 triliun. Angka ini turun sekitar 52% dari capaian tahun sebelumnya. Salah satu penyebab laba bersih tahun 2017 turun karena pertumbuhan pendapatan perusahaan tidak bisa menutup kenaikan beban.

Disisi lain, kebijakan pemerintah yang kurang mendukung menjadi pemicu penurunan harga saham PGAS. Meski begitu, PGAS masih masuk indeks LQ-45 dan kategori blue chip atau perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang besar dan likuiditas tinggi.

Namun, sejak awal 2018, harga saham PGAS mulai merangkak naik. Ini seiring dengan kebijakan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memastikan bahwa PGN segera mengakuisisi anak usaha Pertamina yang bergerak dalam bisnis gas, yakni PT Pertagas.

Keputusan yang disampaikan pada 16 Januari 2018 tersebut direspon pasar dengan cepat. Alhasil, saham PGAS hari itu naik hingga 6,5 persen dan ditutup pada angka Rp 1,880. Tak cukup sampai di situ, kenaikan lebih besar terjadi pada keesokan harinya. Saham PGAS ditutup naik 25 persen ke angka Rp 2.360 dengan status Auto Reject atau batas maksimal kenaikan suatu saham dalam satu hari. Selain itu, volume perdagangan PGAS pun naik hingga lima kali lipat. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah PGAS.

Meski sempat turun dulu hingga 6 persen, kenaikan kembali terjadi tiga hari berturut-turut hingga jadwal Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dilaksanakan pada 25 Februari. Sehari sebelum RUPS, saham PGAS menyentuh angka Rp 2.690 pada penutupan perdagangan.

Namun, ketika RUPSLB belum membuahkan holding karena masih menunggu Peraturan Presiden (PP), harga saham kembali mengalami koreksi bahkan hingga empat hari berturut-turut. Per 30 Januari 2018, harga saham PGAS kembali menyentuh level Rp 2.380.

Adanya kabar baru terkait kelanjutan holding company, membuat harga saham PGAS kembali bergairah. Pada 14 Februari 2018, harga saham PGAS kembali mengalami kenaikan hingga 6 persen dan ditutup pada angka Rp 2.500. Hal ini bersamaan dengan terbitnya kebijakan Kementerian BUMN yang membubarkan Direktorat Gas di Pertamina. Keputusan ini diambil dari hasil RUPS Pertamina dan merupakan kelanjutan dari perjalanan holding migas.

Analis Launtandhana Securindo Krishna Setiawan menilai peningkatan saham PGAS ini berkaitan dengan rencana holding dan pembubaran Direktorat Gas Pertamina. Dengan membubarkan direktorat yang dibentuk tahun 2012 ini, maka jalan pembentukan holding semakin terbuka lebar. Apalagi dalam skema holding, PT Pertamina Gas, yang merupakan anak usaha Pertamina akan diakuisisi PGN.

Kabar terakhir, tiga menteri yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani, serta Menteri BUMN menghadap Presiden Joko Widodo pada Rabu 28 Februari 2018. Ketiganya dipanggil Jokowi untuk membahas induk usaha holding BUMN Migas.

Usai menghadap Jokowi, Rini mengatakan Presiden segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) mengenai holding BUMN Migas dalam waktu dekat. Seperti sebelumnya, kabar ini pun kembali di respon pasar. Saham PGAS kembali menguat 3,4 persen ke level 2.670.

PP tersebut akhirnya diteken presiden pada Jumat (09/03). Namun, bersamaan dengan itu PGAS merilis laporan keuangan 2017 dengan torehan kurang memuaskan yang membuat harga sahamnya terkoreksi 1,65% ke level Rp 2.390 pada penutupan perdagangan.

Keputusan akhir dari holding migas akan ditentukan pada RUPS Pertamina yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Pada rentang tersebut, saham PGAS diprediksi mengalami perlambatan seperti sebelumnya saat menanti kepastian mengenai holding migas.

Bagi para pelaku pasar di bursa saham Indonesia, perjalanan holding migas akan terus dimonitor. Bahkan, saham PGAS menjadi incaran investor asing. Sepanjang 2018 ini, saham PGAS telah diakumulasi oleh pemain asing. Tiga dari lima broker teratas yang melakukan pembelian bersih saham PGAS diisi oleh broker asing. Credit Suisse Securities Indonesia dengan harga rata-rata 2.460 senilai Rp 619 miliar menempati posisi pertama. Disusul Merrill Lynch Indonesia dengan Rp 157 miliar pada harga Rp 2.559 dan J.P Morgan Securities Indonesia dengan Rp 87 miliar pada harga Rp 2454 di urutan ke-5.

Pada akhirnya, adanya kebijakan holding migas diharapkan dapat menurunkan beban operasional yang selama ini menjadi momok bagi kinerja keuangan PGN. Ke depan, tak perlu lagi ada investasi ganda karena cukup membangun satu infrastruktur untuk digunakan anak-anak usaha secara bersama. Lebih jauh, masyarakat juga mendapat manfaat seperti turunnya harga gas, termasuk juga bagi industri.