2 Maret 2018 | 17:41
Tita Adelia
Palagan Terakhir Khofifah di Pilgub Jatim
Laga Ipul versus Khofifah mempunyai arti penting bagi keduanya, lebih dari sekadar memperebutkan jabatan gubernur.

Di Indonesia, dua kali kalah dalam pemilihan kepala daerah dan kembali menjadi kandidat untuk merebut posisi yang sama tampaknya baru dilakoni seorang politikus, yaitu Khofifah Indar Parawansa. Kandas di Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2008 dan 2013, sosok yang pernah menjabat menteri di era Abdurrahman Wahid dan Joko Widodo ini kembali ke gelanggang pilgub Jatim, menggandeng Emil Elistianto Dardak, dengan dukungan Partai Demokrat, Nasdem, PPP, Hanura, dan PAN.

Di percobaannya kali ini, Khofifah tentu akan habis-habisan untuk memenangkan pertempuran, dan tidak kembali terjerembab dalam kekalahan. Apalagi, lawan yang dihadapi adalah Saifullah Yusuf (Gus Ipul), yang ketika menjadi pendamping Soekarwo dua kali mengkandaskan Khofifah. Bila mengacu pada peta suara dukungan DPRD, pasangan Saifullah-Puti Soekarno yang usung PKB, Gerindra, PKS, dan PDIP mengantongi 58 kursi. Selebihnya, 42 kursi dikuasai pendukung Khofifah-Emil.

Tentu, seperti pilkada di daerah lainnya, perbandingan jumlah kursi partai tak semata menjadi indikator satu pasangan kandidat akan memenangkan kontestasi pilkada. Dalam kasus Pilgub Jatim kali ini, menarik untuk menampilkan kembali hasil penghitungan suara di dua laga sebelumnya, dan melihat kantong-kantong suara yang mendukung dua seteru tersebut, di provinsi yang memiliki 30,6 juta pemilih tetap itu, atau kedua terbesar nasional setelah Jawa Barat (33 juta pemilih).

Di kawasan Tapal Kuda yang membentang dari Pasuruan bagian timur hingga Banyuwangi, ada dua kabupaten yang menjadi basis pemilih Khofifah, yaitu Jember dan Banyuwangi. Di daerah lainnya yang meliputi Kota Probolinggo, Kabupaten Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang merupakan basis pemilih Soekarwo dan Ipul kecuali Kabupaten Probolinggo. Kabupaten Probolinggo berpotensi menjadi ajang pertempuran sengit kedua kandidat karena Khofifah dan Ipul pernah kalah juga menang di sana.

Adapun di kawasan Arek yang terbentang dari pantai utara Gresik hingga pantai selatan Malang, Khofifah terlihat lebih perkasa. Kantong pendukung Khofifah meliputi Kabupaten Gresik, Mojokerto, dan Blitar. Sementara itu, Kota Malang, Surabaya, Batu, Pasuruan, Kabupaten Malang, dan Sidoarjo berpotensi menjadi kawasan masa mengambang karena pemenang pilgub 2008 dan 2013 berganti dari Soekarwo ke Khofifah maupun sebaliknya.

Merujuk peta suara tersebut, Ipul memiliki modal besar di daerah Mataraman dan Madura. Ada 11 Kabupaten yang membentang dari Tuban hingga Pacitan yang menjadi pemilih loyal Soekarwo dan Ipul dalam dua pilgub berturut-turut. Secara total, dari 38 kabupaten dan kota, hanya tujuh kabupaten yang menjadi basis pendukung loyal Khofifah. Sementara Ipul mengantongi 14 kabupaten dan lima kota. Di 12 kabupaten dan kota, keduanya harus bekerja lebih keras untuk meyakinkan pemilih.

Beranjak dari letak basis pemilih, hal yang menentukan siginifikansi kawasan tersebut adalah jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT). Meskipun kota dan kabupaten yang menjadi basis dukungan Khofifah tak sebanyak milik Ipul, secara total presentase DPT wilayah tersebut hanya berselisih 10 persen. Daerah yang loyal memenangkan Khofifah pada peta pertama mencapai 25 persen dari DPT. Adapun daerah yang dua kali memenangkan Soekarwo dan Ipul berjumlah 35 persen dari DPT.

Adapun di sisa daerah yang meliputi 40 persen pemilih terdiri dari 12 kota dan kabupaten. Pada 2008, Khofifah merebut lima kabupaten dan tiga kota, sementara Soekarwo-Ipul menang di tiga kabupaten dan satu kota. Lima tahun kemudian, daerah yang sebelumnya memenangkan Khofifah berbalik mendukung Soekarwo, dan sebaliknya daerah yang memenangkan Soekarwo jatuh ke genggaman Khofifah. Bila dirinci, lima kabupaten dan tiga kota tersebut memiliki total 31 persen pemilih Jatim.

Lebih lanjut, yang menarik dari Pilgub Jawa Timur adalah hasilnya yang selalu serasi dengan pemilihan presiden.  Kandidat yang didukung oleh partai pendukung presiden selalu berhasil menjadi gubernur. Pada 2008 dan 2013, Soekarwo didukung oleh Partai Demokrat, yang secara berturut-turut mendukung Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004 dan 2009. Tak hanya memenangi pemilihan presiden, Demokrat juga berjaya di pilihan legislatif di tingkat pusat dan provinsi Jawa Timur.

Pada 2014, konstelasi politik berubah. PDIP keluar sebagai pemenang pemilihan legislatif nasional. Di Jawa Timur, PDIP berada di posisi kedua setelah menang di 16 kabupaten dan kota. Posisi pertama ditempati PKB dengan 17 kabupaten dan kota. Selain berjaya di pemilihan legislatif nasional, PDIP juga sukses mengantarkan Joko Widodo ke tampuk kekuasaan nasional. Adapun Demokrat di Jawa Timur hanya menang di tiga daerah, diikuti Golkar dan Gerindra yang sama-sama memegang satu daerah.

Peta dukungan partai untuk para kandidat gubernur dan wakil gubernur juga berubah. Alih-alih mendukung Ipul, Demokrat dan PAN kini berada di belakang Khofifah.  Sedangkan PDIP dan PKB yang merupakan dua partai pemenang pemilihan legislatif di provinsi tersebut mendukung Ipul.

Mengacu pada dua basis dukungan dari hasil pilgub dua periode dan peta partai politik di Jawa Timur, Ipul memiliki modal yang cukup untuk kembali menjungkalkan Khofifah. Namun, perlu menjadi catatan bahwa dalam peta pertama, basis dukungan Ipul diperoleh ketika ia bersanding dengan Soekarwo, yang sekarang justru mendukung Khofifah. Dukungan partai politik pun berimbang. Ipul boleh percaya diri dengan mengendarai partai pemenang pemilihan legislatif, namun Khofifah didukung oleh partai yang sudah dua kali berhasil mengantarkan kandidatnya ke kursi gubernur.

Yang jelas, laga Ipul versus Khofifah mempunyai arti penting bagi keduanya. Lebih dari sekadar memperebutkan jabatan gubernur, Ipul ingin membuktikan bahwa tanpa Soekarwo, ia bisa menandingi Khofifah. Adapun bagi Khofifah, jika kembali kalah, bukan tidak mungkin Pilgub Jatim kali ini merupakan palagan terakhirnya di pemilihan kepala daerah.

 ***

Tita Adelia mengisi posisi periset dalam Divisi Riset dan Data Katadata. Menempuh pendidikan magister pada jurusan komunikasi politik di University of Glasgow. 

Visualisasi data ini dibantu oleh Nazmi Haddyat Tamara, Data Analyst Katadata.