5 Februari 2018 | 14:43
Nazmi Haddyat Tamara
Data Analyst Katadata
Harga Beras Tinggi, Angka Kemiskinan Terancam Naik
Harga beras yang semakin merangkak naik, telah berefek pada angka inflasi. Selain itu, besarnya porsi pengeluaran beras pada garis kemiskinan dapat menimbulkan naiknya tingkat kemiskinan pada periode mendatang.

Hingga akhir Januari 2018, pergerakan harga beras masih menunjukkan tren kenaikan. Meski telah sedikit mereda, namun harga saat ini masih diatas rata-rata harga sepanjang tahun 2017. Kenaikan harga ini hampir merata di seluruh daerah dan pada semua kualitas beras, dari kualitas bawah, medium, hingga premium.

Gejala kenaikan harga beras sebenarnya sudah terjadi sejak akhir tahun lalu. Selain bertepatan dengan masa paceklik yang terjadi pada Oktober-Desember, naiknya harga beras ini disinyalir disebabkan oleh rendahnya pasokan beras dan menipisnya stok beras Bulog. Idealnya, saat harga merangkak naik, Bulog dapat melakukan intervensi dengan menggelar operasi pasar.

Padahal, sebelumnya Kementerian Pertanian pernah menyatakan bahwa stok beras aman bahkan mengalmi surplus. Perbedaan klaim data antar kementerian juga menjadi masalah lain. Pasalnya, hal ini merembet pada keputusan impor yang telah diteken Kementerian Perdagangan dan ditugaskan pada Perum Bulog. Kabarnya, impor beras sebesar 261 ribu ton yang berasal dari Thailand dan Vietnam akan tiba pada awal hingga pertengahan Februari mendatang.

Pendorong Inflasi

Beralih dari simpang siur kebijakan impor, pergerakan harga ini juga berdampak pada perekonomian secara makro. Hal paling dekat adalah inflasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi bulanan pada Januari 2018 sebesar 0,62% atau sebesar 3,25% secara tahunan (YoY). Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, inflasi terjadi utamanya karena kenaikan harga beras. Komoditas ini berkontribusi pada peningkatan inflasi selama Januari 2018 sebesar 0,24%.

Dibandingkan komponen lain, bahan makanan menjadi pendorong terbesar inflasi bulan lalu. Selain itu, jika dibandingkan periode sebelumnya, inflasi bahan makanan ini termasuk yang tertinggi dalam setahun terakhir.
Kenaikan bulan ini sudah dimulai sejak akhir tahun lalu, pada Desember tercatat inflasi berada di angka 0,71% dengan kontribusi bahan makanan sebesar 0,46%. Jadi, secara inflasi menurun, namun secara bahan makanan justru meningkat.
Jika gejolak harga belum mereda, inflasi tinggi diprediksi akan terjadi juga pada februari hingga maret atau saat terjadinya panen raya dan harga pangan khususnya beras kembali stabil.

Tingginya Angka Kemiskinan

Lebih jauh dari inflasi, kenaikan harga beras ini juga dapat berdampak pada tingkat kemiskinan. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan rutin pada Maret dan September setiap tahunnya akan memotret kondisi masyarakat, termasuk angka kemiskinan.

Kondisi terakhir pada September 2017, tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 10,12% dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 26,58 juta jiwa. Angka ini menurun dari periode Maret 2017 yang mencapai 10,64% dengan 27,77 juta jiwa penduduk miskin.

Hal menarik dari hasil tersebut adalah peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan (GK) jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada September 2017 tercatat sebesar 73,35 persen.

Kontribusi bahan makanan terhadap kemiskinan berada pada angka 70,63% untuk perkotaan, dan 76,77 % untuk daerah pedesaan. Jika dilihat rinciannya, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya hampir sama.

Beras memberi sumbangan sebesar 18,80 persen di perkotaan dan 24,52 persen di perdesaan. Ini merupakan yang terbesar dibandingkan komoditi makanan lain, bahkan komoditi lain yang bukan makanan. Hal yang sama terjadi pada Maret 2017, Beras memberikan sumbangan garis kemiskinan sebesar 20,11% di Perkotaan, dan 26,46% di pedesaan.

Melihat lebih jauh pada periode-periode sebelumnya, beras memang menjadi komoditas penyumbang garis kemiskinan terbesar terutama di daerah pedesaan, rentang kontribusi beras berada pada 18-30% terhadap garis kemiskinan. Bukan menjadi hal aneh mengingat pengeluaran terbesar masyarakat untuk bahan makanan pokok khususnya beras masih berada di atas 70%.

Jika melihat data-data diatas, harga beras yang terus naik dapat berdampak panjang hingga ancaman naiknya angka kemiskinan. Perhatian khusus terutama pada daerah pedesaan karena komposisi penduduk miskin yang lebih banyak, dan kontribusi beras terhadap garis kemiskinan yang lebih tinggi.

Untuk itu, pemerintah perlu segera meredakan gejolak harga beras yang masih tinggi. Bahkan, seharusnya hal ini telah diantisipasi sejak lama. Pola yang selalu berulang adalah pada akhir tahun di Oktober-Desember saat masa paceklik tiba. Imbasnya biasa dirasakan pada Januari-Februari dan berdampak pada naiknya tingkat kemiskinan pada bulan Maret.

***

Nazmi Haddyat Tamara adalah Data Analyst dan Statistician Katadata. Saat ini, dia mengisi posisi tim Data pada divisi Riset dan Data Katadata. Menempuh pendidikan pada jurusan Statistika IPB dan telah berpengalaman dalam pengolahan dan analisis data pada berbagai topik. 

Catatan:

Semua data yang diolah pada tulisan ini diperoleh dari Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pusat Statistik (BPS)