6 Januari 2018 | 13:37
Agus Dwi Darmawan
Indonesia dalam Satu Dekade Deindustrialisasi
Sekitar 20 tahun lalu, sektor manufaktur Indonesia dipuji Bank Dunia karena menjanjikan ekonomi berkualitas. Sekarang, kondisinya sedang meredup. Sektor ini dalam 10 tahun terakhir tumbuh lambat.

Syahdan, Indonesia pernah digadang-gadang sebagai salah satu “macan Asia”. Ini merupakan sebutan bagi negara Asia yang memiliki prospek ekonomi menjanjikan, dan diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi dunia. Indikatornya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil, dan ditopang oleh industrialisasi. 

Tapi, itu kisah seperempat abad silam. Negara lain yang juga disebut macan Asia, antara lain Korea Selatan, Tiongkok, dan Hong Kong, yang tampil sebagai motor penggerak ekonomi dunia. Sedangkan perekonomian Indonesia, setelah kirisis ekonomi 1998, bergerak tertatih-tatih dan berulang kali terkena dampak turbulensi politik. 

Alih-alih sebagai sebagai penopang perekonomian, data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan rata-rata pertumbuhan industri per kuartal dalam sepuluh tahun terakhir lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi nasional. Tak pelak, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri, Rosan Roeslani menyebut Indonesia mengalami deindustrialisasi

Grafik - Rata-rata laju pertumbuhan industri dibandingkan rata-rata laju PDB nasional periode 2001-2017 yang tercatat lebih rendah dan terus menurun selama 15 tahun terakhir. 

Menurut Rosan, deindustrialisasi juga dapat dilihat dari angka kontribusi industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang saat ini tak setinggi pada era 1990-an hingga awal 2000. Banyak kendala yang telah membuat berbagai industri tidak tumbuh misalnya dari segi insentif, mahalnya bahan baku, sumber daya manusia, serta inovasi & teknologi. 

Sebelum itu, hampir semua sub-kategori manufaktur di Indonesia mengalami pelemahan pertumbuhan output. Pertumbuhan ekspor tahunan produk manufaktur non-migas anjlok dari 21 persen pada tahun 1990-1995, menjadi 8,8 persen untuk periode 1996-2000, dan menjadi 5,1 persen untuk periode lima tahun berikutnya. 

Grafik - Laju pertumbuhan industri non migas periode 1991-2017 yang terus mengalami fluktuasi.. 

Laporan Bank Dunia pada 2012 sebelumnya juga menyebutkan, sektor manufaktur Indonesia terpuruk setelah mengalami lonjakan di awal 1990 . Padahal, sektor manufaktur inilah yang digadang-gadang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Sehingga, Indonesia menuai pujian dari berbagai lembaga internasional. 

Sektor manufaktur dipercaya sebagai pendorong utama pertumbuhan. Banyak negara maju, termasuk Tiongkok, menjadi kekuatan ekonomi dunia dengan dukungan sektor manufaktur. Di samping menjadi motor penggerak ekonomi, tumbuhnya sektor manufaktur juga menimbulkan efek berganda ke sektor lainnya. Salah satunya adalah, mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. 

Chart di bawah ini menunjukkan lonjakan angka pekerja sektor industri yang signifikan untuk periode 1990-1996 ketika sektor manufaktur tumbuh di atas 13 persen. Demikian pula, kenaikan signifikan kembali terulang pada 2009-2013 ketika sektor manufaktur mulai bergeliat. 

Grafik - Pekerja sektor industri dibandingkan jumlah angkatan kerja sejak 1986 sampai kondisi terkini. 

Di Indonesia, sektor manufaktur menyediakan 12 persen dari total lapangan pekerjaan pada 2009. Menurut riset Bank Dunia, sektor manufaktur juga lebih banyak menawarkan pekerjaan formal serta kesempatan kerja yang tidak bias gender.