22 Desember 2017 | 21:01
Agus Dwi Darmawan
10 Blok dengan Cadangan Migas Terbesar di Indonesia
Tidak setiap tahun blok migas dengan cadangan besar bisa ditemukan. Pada akhir 2016, cadangan terbukti minyak Indonesia terus menurun dan tinggal 3,6 miliar barel (termasuk kondensat).

Dalam delapan tahun terakhir, cadangan minyak dan gas nasional terus menyusut. Kondisi ini diperparah dengan minimnya eksplorasi sebagai dampak efisiensi yang diambil perusahaan migas menyusul anjloknya harga minyak dunia. Di penghujung 2016, cadangan terbukti minyak Indonesia hanya 3,6 miliar barel, atau 0,2 persen dari total cadangan dunia. Adapun cadangan terbukti gas sebesar 103 triliun kaki kubik (tcf), atau 1,6 persen dari total cadangan dunia. 
 

 
 
Karena cadangan yang minim, tak heran bila produksi minyak Indonesia pada 2016 rata-rata hanya 831 ribu bopd atau menempati peringkat 22 negara penghasil minyak dunia. Sedangkan untuk gas, produksi Indonesia mencapai 8,2 miliar kaki kubik per hari (bscfd), dan masih termasuk 10 besar penghasil gas dunia. Di sektor minyak, seperempat hasil produksi tersebut disumbang Blok Cepu, dengan produksi 208,8 ribu barel per hari (bph). 
 
Lalu, blok migas mana saja yang memiliki cadangan terbesar di Tanah Air? Saat ini, perkiraan cadangan migas terbukti yang terbesar di Indonesia ada di Masela. Cadangan gas ditemukan pada tahun 2000 di lapangan Abadi pada kedalaman laut 457 meter dan 4.230 meter. Awalnya jumlah cadangan yang ditemukan di perairan Maluku Selatan ini hanya 6,9 tcf. Namun pada 2014 ada temuan baru sehingga total cadangan menjadi 10,7 tcf. 
 
Cadangan terbesar lain adalah Berau yang ditemukan pada 1998, Rokan, Muturi, dan Ganal. Gabungan blok Berau, Muturi, dan Wiriagar dikenal dengan proyek Tangguh. Jumlah cadangan terbukti dan terduga dari tiga blok tersebut diperkirakan mencapai 18,3 tcf.

1972

Mahakam

Lapangan (Bekapai)

1972

Natuna Sea Block A

1972

Corridor

1973

Natuna D-Alpha

1974

Mahakam

Lapangan (Handil, Tambora)

1977

Mahakam

Lapangan (Tunu)

1977

Kangean

1983

Mahakam

Lapangan (Peciko)

1986

Mahakam

Lapangan (Sisi)

1992

Mahakam

Lapangan (Nubi)

1996

Mahakam

Lapangan (South Mahakam)

1997

NSO Extension

8-Sep-97

Berau

24-Aug-98

Muturi, Berau, and Wiriagar

24-Aug-98

Berau

24-Aug-98

Muturi

Lapangan (Vorwata-4)

24-Aug-98

Wiriagar

1999

Corridor

Lapangan (Suban)

1999

Rapak

Lapangan (Bangka-2)

1999

Rapak

Lapangan (Bangka field)

2000

Northwest Natuna

Lapangan (Ande-ande Lumut)

2000

Masela

Lapangan (Abadi Field)

April 2001

Cepu

Lapangan (Banyu Urip)

2001

Rapak

Lapangan (Ranggas Field)

2002

Ganal

Lapangan (Gendalo Field)

2002

East Kalimantan

Lapangan (Maha)

2002

Malaysia

Lapangan (Kikeh)

31-Mar-03

Corridor

Lapangan (Suban-8)

2003

Rapak

Lapangan (Gehem fields)

2005

Natuna D-Alpha

15-Feb-07

Wokam

Lapangan (Sumur Bamerah-1/ST (satu dari 22 sumur))

15-Feb-07

Wokam

7-Mar-07

Corridor

Lapangan (Suban-10)

2007

Rapak & Ganal

Lapangan (Aster and Tulip)

7-Oct-08

Masela

2011

Blok Kasuari

2011

Kasuri

6-Apr-09

Muara Bakau

Lapangan (Jangkrik)

3-Feb-10

Berau, Wiriagar, dan Muturi

23-Jun-10

Muara Bakau

Lapangan (Jangkrik 2)

Dec-10

Rapak

Lapangan (Gehem-2)

16-Dec-10

Muara Bakau

Lapangan (Jangkrik 3)

16-Feb-11

Kasuri

25 April 2011

Cepu

Lapangan (Kedung Keris)

28-Jul-11

Muara Bakau

Lapangan (Jangkrik North East)

15-Mar-12

WMO

Lapangan (sumur eksplorasi PHE KE38-2)

13-Mar-13

Bontang

Lapangan (South Kecapi-1)

13-Mar-13

Bermuda

Lapangan (sumur North Klalin-3)

13-Mar-13

Kofiau

Lapangan (Sumur Ajek-1)

7-May-13

Tuban

Lapangan (Pad B Sukowati)

2014

Masela

16-Jul-14

Genting Oil Kasuri

17-Jul-14

Kasuari

17-Jul-14

Tangguh, Berau, Wiriagar, dan Muturi

17-Jul-14

Kasuari

19-Aug-14

Rokan

27-Oct-14

East Sepinggan

Lapangan (Merakes 1)

23-Feb-15

South Sesulu

Lapangan (sumur SIS-A#1)

7-Jul-15

South Sesulu

22-Aug-15

Jabung

Lapangan (Sumur Panen-3)

22-Aug-15

Jabung

Lapangan (Sumur Tiung Utara-1)

22-Aug-15

Jabung

Lapangan (Sumur Tiung Utara-2)

8-Oct-15

Pangkah

Lapangan (Sedayu)

29-Sep-16

Pangkah

Lapangan (sumur eksplorasi Sidayu-4V)

29-Sep-16

Pangkah

Lapangan (sumur eksplorasi Sidayu-3ST1)

21-Jan-17

Cepu

20-Mar-17

Nunukan

Lapangan (Sumur eksplorasi Parang-1)

*geser ke kanan atau ke kiri untuk melihat detail sejarah penemuan


 

Penelusuran Katadata dari berbagai sumber yang dirilis, penemuan cadangan migas terbesar di Indonesia terjadi pada periode tahun 1970-an dan 1990-an. Cadangan-cadangan tersebut adalah Mahakam, Rokan, dan Masela.

Monitoring lebih dari 4000 berita migas dari berbagai media untuk periode 2006-2017, pemberitaan tentang temuan blok migas memang tidak banyak. Ditemukan hanya kurang dari 100 judul berita dengan kata kunci temuan cadangan blok migas. Berikut ini adalah beberapa highlight menurut periode waktu terbitnya pemberitaan.

Blok Mahakam, adalah lapangan yang sudah berusia setengah abad. Kontrak blok yang dioperatori Total E&P ini berakhir pada Desember 2017. Awalnya, eksplorasi blok pertama kali dilakukan pada 1969 oleh Japex Indonesia dan gagal. Setahun kemudian Total bergabung dan pada 1972 menemukan cadangan di lapangan Bekapai. Perkiraan cadangan terbukti dan mungkin (P2) dari blok ini adalah 1,68 miliar barel minyak dan 21,2 triliun kaki kubik gas.  

Di periode berikutnya, 1974-1996 secara berturut-turut ditemukan lapangan-lapangan lain yang juga menghasilkan minyak dan gas di Blok Mahakam. Setidaknya, ada delapan lapangan utama penghasil migas yang menjadi penopang produksi Mahakam, yakni Bekapai, Handil, Tambora, Tunu, Peciko, Sisi, Nubi, dan South Mahakam. Mahakam pun tercatat sebagai ladang penghasil gas terbesar nasional.  

 
Cadangan Terbesar
              *perbandingan cadangan minyak dan gas untuk blok-blok utama. Data 2016 satuan setara dalam juta barel minyak (mmboe)
      


Temuan selanjutnya adalah Muturi, Berau dan Wiriagar. Karena lokasi saling berdekatan, tiga blok ini dijadikan satu menjadi proyek strategis nasional yang dikenal dengan proyek Tangguh. 

Gabungan ketiganya untuk cadangan P2 diperkirakan mencapai 18,3 tcf.

 
Gabungan ketiganya untuk cadangan P2 diperkirakan mencapai 18,3 tcf. Mengingat besarnya skala proyek, meski sudah ditemukan sejak 1998, gas dari Tangguh baru bisa diproduksi dan dikapalkan pada 2009. 
 
Blok lain yang termasuk dalam kategori besar adalah Masela. Inpex, yang menjadi operator blok tersebut cadangan gas di lapangan Abadi pada tahun 2000. Cadangan yang ditemukan juga sangat besar. Namun, hingga kini Blok Masela belum dapat berproduksi karena masih dalam persiapan pengembangan. 
 

Kendala dan Kesulitan Penemuan Sumberdaya Migas

 
 
Sejak Blok Cepu ditemukan 15 tahun lalu, Indonesia tidak lagi menemukan cadangan baru dalam angka yang fantastis. Laporan Wood Mackenzie pada 2013 menyebutkan bahwa penemuan sumber daya fosil di Indonesia bahkan termasuk yang terkecil di Asia Tenggara. 
 
Indonesia juga kehilangan potensi eksplorasi mencari cadangan karena minat investor untuk mengikuti lelang blok migas setiap tahun terus menurun. Bila pada 2014 ada 11 blok yang laku dari 21 blok yang dilelang, tahun lalu bahkan tak ada satu pun pemenang untuk delapan blok konvensional yang ditawarkan. 
 
Untuk menggarap blok migas, memang diperlukan perhitungan yang matang. Apalagi, blok yang ditawarkan belum tentu memiliki cadangan yang dapat dikomersialisasi. Pengeboran sumur juga bisa diulangi seperti halnya yang terjadi di Blok Kasuri untuk sertifikasi cadangan. Lebih buruk lagi, kontraktor migas harus kelihangan investasi milaran dolar karena mengebor sumur kering. 

Periode 2010-2015, ada lebih dari US$ 7 miliar investasi migas hilang begitu saja karena gagal menemukan cadangan

Pada 2015, misalnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan sejak periode 2010-2015, ada lebih dari US$ 7 miliar atau sekitar Rp 96 triliun investasi migas hilang begitu saja karena gagal menemukan cadangan.  Oleh sebab itu, para geolog mengusulkan agar data subsurface bisa dibuka karena biasanya terkait satu sama lain.

Pengecekan diperlukan karena kadang ada beberapa struktur yang memiliki kondisi bagus, namun ada yang kurang optimal. Biasanya, dalam menentukan potensi blok migas, para ahli mempertimbangan kondisi surface dan sub surface lapangan. Hasil perhitungannya, kemudian akan memperlihatkan ‘tingkat’ keekonomian dari suatu blok. 

*Agus Dwi Darmawan, Data Manager Katadata Indonesia, lead project Xplorer.id, portal terintegrasi industri migas. Riset dan data dalam tulisan ini dibantu oleh Abdul Basyir, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Pertahanan (Unhan).