1 Agustus 2017 | 16:16
Yola Kamalita
Mahasiswa Tingkat Akhir Matematika Institut Teknologi Bandung.
Banyak Anak, (Tidak) Banyak Rezeki
Temuan BPS dan Unicef memperlihatkan bahwa tingkat kemiskinan anak cenderung tinggi pada keluarga dengan jumlah anggota keluarga yang lebih besar.

Banyak anak, banyak rezeki adalah satu ungkapan yang cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia. Secara gamblang pepatah ini kerap dimaknai bahwa semakin banyak anak dalam suatu keluarga, maka kekayaan keluarga tersebut akan bertambah. Lantas, bagaimana sesungguhnya realita yang terjadi pada keluarga di Indonesia?

Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan United Nations Children’s Fund (Unicef) merilis riset mengenai kemiskinan anak di Indonesia. Hasil riset itu menyebutkan bahwa saat ini setidaknya terdapat 11 juta anak Indonesia hidup dalam kemiskinan. Angka tersebut setara dengan 13,3 persen dari jumlah anak usia 0-17 tahun. Komposisinya, sekitar dua per tiga anak miskin hidup di pedesaan (63 persen) dan sepertiga lainnya tinggal di perkotaan (37 persen).

Yang menarik, hasil riset itu bertolak belakang dengan mitos banyak anak banyak rezeki seperti yang diyakini sebagian masyarakat selama ini. Temuan kedua lembaga itu memperlihatkan bahwa tingkat kemiskinan anak cenderung tinggi pada keluarga dengan jumlah anggota keluarga yang lebih besar. Hal ini terjadi karena semakin besar anggota rumah tangga, maka akan semakin besar pula tanggungan rumah tangga tersebut.

Dari 11 juta anak yang masuk pada kategori miskin, 70 persen anak miskin tinggal di keluarga dengan anggota rumah tangga lebih dari 5 orang. Ini angka yang cukup fantastis. Sebab, hanya 30 persen anak miskin hidup dalam keluarga dengan anggota rumah tangga di bawah 4 orang.

Data tersebut menggambarkan bahwa anak yang tinggal pada keluarga besar berisiko lebih tinggi untuk menjadi miskin. Tercatat lebih 25 persen dari keluarga yang mempunyai anggota lebih dari tujuh, hidup di bawah garis kemsikinan. Artinya, satu dari empat anak yang tinggal dalam keluarga besar lebih berisiko mengalami kemiskinan.

Jika dilihat lebih rinci menurut jumlah anggota rumah tangga dengan komposisi 1-2 anggota, 3-4 anggota dan 5-6 anggota diperoleh masing-masing persentase anak miskin sebesar 5,8%; 8,2%; 15,8%. Dapat dilihat pula pada ilustrasi grafik di bawah ini, persentase jumlah anak miskin melonjak tajam pada anggota lebih dari 5 orang.

Secara penyebaran wilayah, kemiskinan anak tertinggi berada di wilayah timur Indonesia. Provinsi Papua dan Papua Barat menjadi wilayah dengan persentase kemiskinan anak tertinggi, masing-masing sebesar 35,4 dan 31 persen. Pulau Nusa Tenggara dan Papua yang cenderung berwarna merah menunjukkan kedua pulau tersebut cenderung memiliki tingkat kemiskinan anak yang tinggi.

Kemiskinan adalah ketidakmampuan dari segi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari segi pengeluaran, dengan batas Garis Kemiskinan. Anak miskin adalah anak yang tinggal pada rumah tangga dengan pengeluaran perkapita sebulan di bawah garis kemiskinan nasional (Rp 354.386/orang/bulan) atau Rp 12.000/orang/hari.

Selain dari banyaknya anggota keluarga, karakteristik pendidikan juga menjadi salah satu yang tak boleh luput untuk disimak. Anak dengan kepala rumah tangga yang tidak pernah sekolah, 28.69 persen diantaranya mengalami kemiskinan. Persentase ini merupakan yang tertinggi dibandingkan kelompok pendidikan lainnya.

Rumah tangga yang sedang dilanda kemiskinan akan memberikan pengaruh signifikan pada anak, karena berarti anak tersebut juga mengalami kemiskinan. Kemiskinan anak merupakan masalah multidimensional karena banyak faktor penyebab sehingga anak tersebut bisa menjadi miskin.

Salah satu cara pengentasan kemiskinan di Tanah Air adalah mengendalikan pertambahan jumlah penduduk. Itu berarti mengendalikan jumlah anak dalam rumah tangga. Saat ini, pemerintah menerapkan Kampung Keluarga Berencana (Kampung KB) sebagai bagian dari program pengendalian jumlah penduduk.

Pada 2017, pemerintah menargetkan satu Kampung KB di setiap satu kecamatan di seluruh Indonesia. Artinya, diperkirakan akan ada 7.166 Kampung KB sepanjang tahun ini. Hingga April 2017, tercatat sebanyak 633 Kampung KB yang sudah berjalan.

 

***

Yola Kamalita adalah Mahasiswa jurusan Matematika Institut Teknologi Bandung.

Analisis atas data ini dibantu oleh Nazmi Haddyat Tamara, Statistician Katadata

Catatan:

Data kemiskinan anak diperoleh dari buku Analisis Kemiskinan Anak dan Derprivasi Hak-hak Dasar Anak di Indonesia yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan UNICEF.