6 Juni 2017 | 22:43
Franova Herdiyanto
Ketimpangan Gender dalam Pendidikan Tinggi
Bagaimana data dan informasi mengenai komposisi gender dosen di Indonesia?

Pekan lalu pada tanggal 30 Mei 2017, saya mewakili Pusdatin Iptek Dikti memberikan materi pada acara yang diselenggarakan oleh Knowledge Sector Initiative (KSI) di Hotel Century Jakarta. Acaranya sendiri diadakan dengan tema "Gender Inequality in Human Resources and Higher Education". Kenapa kami? karena mungkin Pusdatin Iptek Dikti sebagai salah satu instansi penyuplai data untuk studi terkait. Akhirnya memang kami didapuk untuk memberikan materi tentang data dan informasi terkait kondisi dosen pada situasi terkini.

Data yang kami sajikan pada saat itu bersumber dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) yang memang menjadi salah satu tanggung jawab unit kami. Dengan didasari oleh Undang-Undang nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi serta Permenristekdikti nomor 61 Tahun 2016 tentang Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, PDDikti memang menjadi instrumen penting dalam sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi di Indonesia. PDDikti itu sendiri adalah suatu kumpulan data penyelenggaran pendidikan tinggi seluruh perguruan tinggi yang terintegrasi secara nasional.

Peran PDDikti dalam Sistem Penjaminan Mutu

Kembali kepada pokok pembahasan tentang informasi ketimpangan gender pada pendidikan tinggi di Indonesia. Pada kegiatan tersebut saya memaparkan beberapa data dan informasi tentang dosen dan mahasiswa dalam situasi terkini. Data dan informasi tersebut saya sampaikan memerlukan analisis mendalam terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Pendapat saya pada kegiatan tersebut dan pada tulisan ini merupakan pendapat pribadi yang bertujuan untuk memicu pertanyaan lanjutan.

Kondisi Umum Dosen Tahun Ajaran 2016/2017

Pembahasan awal dimulai dari kondisi umum dosen pada tahun ajaran 2016/2017. Data menyajikan bahwa dosen laki-laki lebih besar daripada dosen perempuan, di mana dosen laki-laki sebesar 56,56% dan dosen perempuan 43,44%. Komposisi ini adalah potret dosen yang berada pada perguruan tinggi yang dinaungi oleh Kemristekdikti. Lebih jauh jika dilihat dalam tiga tahun terakhir, komposisi ini nampaknya stabil seperti pada gambar di bawah ini.

Perkembangan Dosen 3 tahun terakhir

Dalam kondisi tiga tahun terakhir ini, kebutuhan akan dosen meningkat. Itulah yang mungkin menjadi alasan jumlah dosen meningkat tiap tahun pada rentang tersebut. Menariknya komposisi dosen laki-laki dan perempuan cenderung stabil dan trend yang terjadi mungkin akan berlangsung selama beberapa tahun kedepan. Hal itu tentunya akan berubah jika ada kebijakan tertentu dalam penerimaan dosen perempuan.

Kemudian dari kondisi data tahun ajaran 2016/2017 saya coba untuk bedah lebih dalam, kali ini berdasarkan bidang ilmu. Data dan informasi yang tersaji ternyata menguak bahwa tidak sepenuhnya jumlah dosen perempuan di bawah dosen laki-laki. Sejalan dengan stereotype yang ada di masyarakat, ada bidang ilmu yang maskulin dan ada yang feminim.

Komposisi Dosen per Bidang Ilmu

Dua bidang ilmu yang tentunya menjadi perhatian adalah kesehatan dan teknik. Bidang ilmu kesehatan menjadi pendobrak komposisi umum dan bidang ilmu teknik menjadi yang paling ektrim perbedaan komposisinya. Menariknya, mungkin ini terjadi di seluruh dunia. Benar atau tidaknya bisa dibuktikan dengan analisis yang lebih mendalam.

Saya curiga, apa betul minat perempuan menjadi dosen itu kecil? saya coba mulai dengan pilah kembali data yang ada berdasarkan usia dosen. Ternyata minat perempuan menjadi dosen tidak kecil sama sekali, bahkan besar. Hal ini bisa digambarkan pada grafik di bawah ini.

Komposisi dosen berdasarkan usia

Pada usia muda rentang 21-35 tahun, perempuan memiliki jumlah yang tinggi daripada laki-laki. Kemungkinan besar hal ini didukung dengan jumlah mahasiswa yang memang lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Kemungkinan yang lain adalah pekerjaan sebagai dosen adalah dianggap fleksibel, salah satu hal yang disukai oleh siapa saja terlebih kaum perempuan. Lalu apa yang terjadi pada usia berikutnya? Saat diskusi pada acara tersebut, ada yang bilang kaum perempuan sudah sibuk dengan keluarganya, mengurus anak, mengurus kebutuhan suami, dan lain-lain yang perlu dikaji lebih dalam. Padahal di usia matang pada 40 tahun ke atas adalah fase emas jabatan akademik dosen. Mungkin hal inilah yang menjadikan komposisi dosen pada jataban tinggi yakni pada lektor kepada dan professor mengalami ketimpangan yang signifikan.

Komposisi Dosen berdasarkan Jabatan Fungsional

Terlihat pada jabatan fungsional Lektor Kepala dan Professor terjadi ketimpangan yang melebar. Untuk meningkatkan ini perlu kajian lebih dalam demotivasi apa yang terjadi pada kaum perempuan pada fase emas. Apakah kebijakan yang tidak mendukung, kebutuhan pribadi dan reproduksi, atau bahkan sudah nyaman dengan posisi yang lain. Data dan informasi yang saya sajikan pada kegiatan ini merupakan pemicu pertanyaan yang lain, karena hal ini butuh kajian yang lebih mendalam lagi.

*)

Data berasal pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi tanggal 30 Mei 2017