12 Mei 2017 | 14:15
Agus Dwi Darmawan
50 Kabupaten dengan Potensi Pasar Menjanjikan di Indonesia
Selain didominasi kota dan kabupaten di Pulau Jawa, dalam peringkat 50 besar, kami menemukan 18 persen lokasi potensial untuk pengembangan pasar terletak di luar Pulau Jawa.

Indeks Potensi Pasar 2016

Ranking dan Persebaran Indeks Potensi Pasar di Beberapa Daerah 

 

Dikenal sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, kawasan padat penduduk, serta pusat pembangunan infrastruktur, kota-kota di Pulau Jawa menjadi target potensial pelaku bisnis untuk pengembangan pasar. Bahkan, dalam rilis terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan 58,5 persen kue ekonomi nasional masih disumbang Pulau Jawa.

Bagaimana dengan potensi pasar daerah di luar Jawa? Daerah mana yang potensial menjadi target pasar?

Untuk mengetahui daerah mana yang cukup potensial di seluruh Indonesia, Katadata bekerja sama dengan Departemen Statistika Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian mengenai potensi pasar tersebut.

Dalam prosesnya, kami melakukan wawancara langsung dengan pelaku bisnis dan pengamat ekonomi yang mendalami soal potensi pasar dan pengembangan bisnis. Tidak mudah memang untuk memotret wilayah yang potensial dari total 514 kabupaten atau kota di seluruh Indonesia. Sebab, kondisi geografis, sumber daya alam, infrastruktur dan kualitas sumber daya manusianya memang berbeda-beda. Apalagi, ketersediaan data juga tidak cukup lengkap.

Dengan sejumlah keterbatasan tersebut, kami mencoba mengukur potensi pasar di 511 kabupaten atau kota di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode indeks potensi pasar. Indeks ini diperkenalkan oleh S. Tamer Cavusgil di dalam jurnal internasional yang dipublikasikan pada 1997 dan kemudian diperbarui pada 2003.

Metode Indeks Potensi Pasar atau Market Potential Index ini digunakan untuk menggambarkan potensi pasar di tingkat negara menggunakan pembobotan dengan metode delphi. Dengan variabel yang cukup beragam, kami mengadopsi metode tersebut untuk memotret gambaran kabupaten/kota.

Langkah pertama yang dilakukan adalah melihat kesamaan indikator umum yang digunakan. Pada 1997, faktor yang digunakan untuk menghitung IPP adalah sebanyak 7 faktor dengan 13 indikator. Pada 2003, jumlah faktor, bobot, dan indikator yang digunakan dilakukan perubahan mengikuti perkembangan pasar yang terjadi. Untuk analisis dengan cakupan wilayah kabupaten/kota di Indonesia, faktor yang digunakan, yakni 1. Ukuran Pasar; 2. Tingkat Pertumbuhan Pasar; 3. Kapasitas Konsumsi Pasar; 4. Infrastruktur Komersial; 5. Sensitivitas Harga Pasar.

Lima faktor tersebut masing-masing menggunakan indikator berikut ini. Jumlah penduduk digunakan untuk mengetahui seberapa besar ukuran pasar dan potensi pertumbuhan pasar. Jumlah penduduk ini adalah jumlah total baik perempuan maupun laki-laki mulai dari bayi hingga individu lanjut usia. 

Faktor lain yang mencerminkan potensi pasar adalah paritas daya beli (PPP). Konsep partitas daya beli digunakan untuk mengukur dan membandingkan bagaimana suatu barang dan jasa di suatu wilayah bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Data-data ini dalam analisisnya kemudian dikorelasikan dengan kondisi infrastruktur dan indeks implisit suatu daerah.

Pada pengolahan data dilakukan eksplorasi terhadap kelima faktor tersebut untuk melihat sebaran dan keterkaitan data dengan menggunakan diagram boxplot. Selain itu, kami menghitung korelasi antar faktor penyusun indeks potensi pasar dengan menggunakan korelasi Pearson.

 

Top 50 Ranking Indeks Potensi pasar (IPP)

Top 50 Indeks Potensi Pasar

 

Setelah dilakukan konversi nilai dan dihitung, diperoleh 10 daerah dengan nilai IPP terbesar masih terletak di Pulau Jawa, kecuali Kota Medan yang berada di peringkat 10. Sembilan kabupaten/kota dengan peringkat tertinggi yakni Kab. Bogor, Jakarta Selatan, Surabaya, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kab. Tangerang, dan Kab. Bekasi.

Sedangkan untuk urutan peringkat 50 terbesar, ditemukan 9 daerah atau 18 persen adalah kabupaten/kota di luar Pulau Jawa, yakni Kota Medan peringkat 10, Kota Batam (13), Kota Makassar (18), Deli Serdang (20), Kota Palembang (24), Kota Samarinda (31), Kota Kendari, Kota Palu dan Kota Padang masing-masing di peringkat 34, 35 dan 44. 

Bogor, Bekasi dan Tangerang mendapat peringkat teratas karena faktor jumlah penduduk yang cukup tinggi dibandingkan daerah lain. Sedangkan kota-kota di Jakarta unggul karena daya beli atau konsumsi yang cukup besar.

Kabupaten Bogor dengan 5,3 juta jiwa, adalah daerah dengan persentase jumlah penduduk tertinggi di Indonesia. Sangat wajar bila daerah ini menduduki peringkat IPP atau potensi pasar yang paling tinggi. Namun demikian, untuk empat faktor lain, daerah satelit penyangga Kota Jakarta ini masuk golongan rata-rata.

Kekurangan Kab. Bogor yakni terletak pada infrastruktur komersial dan akses ke konsumen yang berada di peringkat 339 serta kapasitas konsumsi pasar yang berada di peringkat 255.

Kemiripan kondisi terlihat di Kabupaten Bandung yang mencatatkan jumlah penduduk 3,5 juta jiwa. Meski jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia, Kabupaten Bandung mendapat peringkat IPP urutan ke 12. Bandung tidak mampu melaju ke urutan 10 besar karena mencatatkan tingkat pertumbuhan pasar di peringkat 237, sensitivitas harga pasar peringkat 329 dan infrastruktur komersial (397). 

 

Indeks Potensi Pasar 511 Kabupaten/Kota di Indonesia

Daerah dengan peringkat IPP urutan kedua adalah Jakarta Selatan. Kota ini unggul dalam hal kapasitas konsumsi pasar yang berada di peringkat satu karena memiliki catatan paritas daya beli yang sangat baik. Paritas daya beli ini merupakan ukuran besarnya pengeluaran per kapita masyarakat terhadap 96 komoditas, sebanyak 66 komoditas di antaranya adalah makanan dan sisanya merupakan komoditas nonmakanan.

Kelemahan di Jakarta Selatan adalah pada masalah sensitivitas harga pasar yang berada di peringkat 419. Artinya, secara keseluruhan terdapat tekanan yang tinggi atas perubahan harga barang dan jasa di Jakarta Selatan dibandingkan 511 kabupaten/kota lainnya di Indonesia. Tidak hanya di Jakarta Selatan, sensitivitas harga sangat tinggi juga terjadi untuk wilayah Jakarta Barat dan Timur masing-masing di peringkat 404 dan 443. Sensitivitas harga ini diukur berdasarkan indeks implisit tahun 2014 terhadap 2013.

Selain pulau Jawa, dalam peringkat 50 besar, kami menemukan 18 persen lokasi potensial untuk pengembangan pasar terletak di luar Pulau Jawa. Kabupaten atau kota tersebut, yakni Kota Medan di peringkat 10, Kota Batam (13), Kota Makassar (18), Deli Serdang (20), Kota Palembang (24), Kota Samarinda (31), Kota Kendari, Kota Palu dan Kota Padang masing-masing di peringkat 34, 35 dan 44.

Secara statistik, sembilan daerah tersebut cukup potensial untuk dikembangkan sebagai target pasar baru. Kota Medan misalnya, secara rata-rata unggul dalam hal jumlah penduduk, kapasitas konsumsi konsumen dan infrastruktur. Seperti halnya kota-kota besar lain di Indonesia, Medan memiliki infrastruktur yang lebih baik. Faktor yang mendorong rendahnya peringkat IPP Kota Medan disebabkan oleh sensitivitas harga pasar.

Daerah lain yang layak dilirik adalah Kota Batam dan Makassar. Dua kota ini hampir memiliki kesamaan kondisi dari sisi pertumbuhan dan kapasitas konsumsi pasar. Batam lebih unggul dari Makassar karena jumlah penduduk yang lebih banyak. Menurut catatan BPS, penduduk Kota Batam pada 2014 mencapai 2,2 juta sedangkan Makassar berpenduduk 1,4 juta jiwa. Selain itu, peringkat Makassar lebih rendah disebabkan oleh ranking sensitivitas harga pasar yang berada di ranking 224 sedangkan Batam di peringkat 82. 

 *** 

Agus Dwi Darmawan adalah Research and Data Manager di Katadata. Dalam dua tahun terakhir fokus mempelajari visualisasi, pemrograman database dan php. Analisis data dikerjakan bersama dengan Bayu Suseno & Lydia Mirna, peneliti program Pascasarjana Departemen Statistika Institut Pertanian Bogor.