28 April 2017 | 06:46
Nazmi Haddyat Tamara
Data Analyst Katadata
Polarisasi Agama Dominan Mewarnai Suara Pilkada 2 Jakarta
Semakin tinggi populasi muslim di kelurahan di Jakarta, maka semakin besar perolehan suara Anies. Sebaliknya, makin sedikit populasi muslim, suara Ahok makin besar. Polarisasi agama makin mengeras, tercermin pada suara Anies dan Ahok.

 

 

Perhelatan pemilihan umum kepala daerah Daerah Khusus Ibukota telah usai. Meski belum ada pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), penghitungan suara versi real count telah selesai. Hasilnya, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mendapatkan 3,24 juta suara warga Jakarta atau 57,95 persen dari total suara pemilih yang sah. Sedangkan pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat menghimpun 2,35 juta suara warga atau 42,05 persen. Penghitungan suara tersebut berdasarkan data real count formulir C1 di seluruh 13.034 tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh wilayah DKI Jakarta.

Pasangan Anies-Sandi unggul di semua atau enam wilayah DKI Jakarta. Pasangan ini menang telak di Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Kepulauan Seribu. Pada ketiga wilayah tersebut, Anies-Sandi mendapatkan lebih dari 60 persen suara. Dari 266 kelurahan yang terdaftar, Anies-Sandi berhasil menang di 208 kelurahan, sedangkan sisanya (58 kelurahan) dimenangkan oleh Ahok-Djarot.

Banyak kalangan beranggapan bahwa kemenangan Anies-Sandi tidak lepas dari upaya masif yang dilakukan kubu pendukungnya dengan memainkan sentimen agama, seperti melalui ceramah di masjid dan penyebaran spanduk provokatif. Hal ini diperkuat dengan beberapa hasil survei dan exit poll yang dilakukan beberapa lembaga survei. Exit poll dari Indikator Politik Indonesia pada 19 April lalu, menyebutkan faktor seagama menjadi alasan dominan memilih Anies-Sandi atau 57 persen responden, disusul dengan alasan bisa membawa perubahan di Jakarta sebanyak 10 persen. Hal ini berbeda jauh dengan alasan memilih Ahok-Djarot yang didominasi karena hasil kerja yang telah terbukti.

Temuan hasil survei dan exit poll tersebut sejalan dengan data yang diolah dari hasil perolehan suara pada putaran kedua direlasikan dengan jumlah populasi warga muslim di setiap kelurahan. Hasil kombinasi kedua data ini menunjukkan bahwa pasangan Anies-Sandi cenderung menang di kelurahan dengan basis penduduk muslim dengan komposisi lebih dari 68 persen. Dari total 224 kelurahan dengan basis muslim tersebut, Anies-Sandi hanya kalah pada 16 kelurahan.

Semakin besar komposisi warga muslim, maka semakin besar pula suara yang dihimpun Anies-Sandi. Pasangan ini memperoleh suara lebih dari 70 persen pada hampir 20 kelurahan dengan komposisi penduduk muslim rata-rata 94 persen. Kemenangan telak tersebut terjadi di Sukabumi Utara, Sukabumi Selatan, Tegal Parang, Pancoran, Kalibata, Mampang Prapatan, Petamburan, Kalibaru dan lainnya. Ini menguatkan bahwa salah satu faktor utama kemenangan Anies-Sandi adalah populasi muslim di suatu wilayah tersebut. Polarisasi agama terbukti mampu membuahkan kemenangan atau mendongkrak suara Anies-Sandi di Pilkada 2. 

(Pengaruh Faktor Agama di Pilkada 1 Jakarta)

 

Tak hanya pada pasangan Anies, mengerasnya polarisasi agama juga tercermin pada suara yang diraih oleh Ahok-Djarot. Pasangan ini berhasil mengamankan suara pada 43 kelurahan dengan komposisi muslim di bawah 68 persen. Semakin kecil jumlah penganut muslim di kelurahan, ada kecenderungan suara Ahok semakin besar. Suara terbesar Ahok yakni 90 persen berada di kelurahan Glodok, Jakarta Barat yang notabene memiliki komposisi muslim hanya 20 persen atau terendah di seluruh wilayah Jakarta.

Dibandingkan dengan putaran pertama, suara Ahok-Djarot pada putaran kedua terlihat stagnan di semua kelurahan. Bahkan, suara Ahok cenderung turun pada 227 kelurahan di Jakarta. Hal ini membuktikan bahwa 17 persen suara pendukung Agus Yudhoyono-Sylviana Murni memang beralih ke pasangan Anies-Sandi. Seperti halnya Anies-Sandi, pada putaran pertama, tren perolehan suara Agus-Sylvi juga menunjukkan kecenderungan memperoleh suara lebih besar pada kelurahan yang mayoritas muslim dan sebaliknya. 

Tentang pengaruh isu-isu lain, seperti penggusuran dan kemiskinan, pengaruhnya jika ada, tidak sekuat sentimen agama. Sebab, hasil analisis data per kelurahan berdasarkan kepadatan penduduk dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pada 2015 sebagai referensi indikator kemiskinan menunjukkan bahwa suara untuk Anies tidak sesolid pengelompokkan data berdasarkan agama.

Di sejumlah kelurahan yang mengalami penggusuran, Anies-Sandi memang mengalami kemenangan cukup signifikan. Misalnya, di Bukit Duri, Kampung Melayu dan Kampung Rawa. Namun, wilayah ini dihuni oleh 88 – 94 persen warga muslim.

Di wilayah-wilayah yang tergolong miskin, suara Anies-Sandi juga tidak cukup merata karena sebagian kelurahan justru dimenangkan oleh Ahok-Djarot. 

Sebagai contoh, kami mengambil 50 kelurahan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi, lebih dari 22 ribu jiwa per km2 dengan besaran PBB kurang dari Rp 1,5 juta pada 2015. Sebagai informasi, rata-rata tingkat kepadatan penduduk di tingkat kelurahan di Jakarta adalah sebanyak 22 ribu jiwa per km2 dan rata-rata PBB sebesar Rp 5,7 juta per unit bumi bangunan.

 

Pasangan Anies-Sandi memang meraih lebih banyak kemenangan di kelurahan  yang dikenal dengan tingkat kepadatan penduduk melebihi rata-rata, serta pajak bumi dan bangunan (PBB) tergolong rendah, yakni di bawah Rp 1 juta pada 2015. Namun, lagi-lagi kelurahan tersebut umumnya juga didominasi warga muslim. Sebut saja misalnya di Manggarai Selatan, Utan Panjang, Lagoa, Pisangan Baru, Kampung Tengah dan lainnya dengan komposisi warga muslim lebih dari 92 persen.

Namun, di sejumlah kelurahan miskin lainnya, Ahok masih mampu mengimbangi, bahkan mengalahkan suara Anies-Sandi. Misalnya saja di Duri Utara, Tanah Sereal, Duri Selatan, Angke dan Jembatan Lima. Agama yang dianut warga di sini cukup beragam dengan populasi muslim di bawah 68 persen. Wilayah tersebut merupakan kelurahan sangat padat penduduk - hingga lebih dari 40 ribu jiwa per km2 dan besaran PBB di bawah Rp 1,5 juta per unit bumi dan bangunan.

Temuan hasil Pilkada di lapangan ini sejalan dengan pandangan profesor Marcus Mietzner, dosen Universitas Nasional Australia (ANU). Dia berpendapat bahwa persoalan agama menjadi penentu kemenangan Anies-Sandi. Apalagi, Ahok dituding telah menistakan agama. Bahkan, tanpa kasus ini pun, peta politik warga Jakarta menunjukkan 40 persen warga adalah orang konservatif yang memilih pemimpin muslim dan 35 persen pemilih adalah orang pluralistik. Sisanya, lebih banyak terpengaruh kasus penistaan agama dan gaya kepemimpinan Ahok.

Kasus Ahok ini agak unit. Selama ini tidak ada calon petahana kalah saat memiliki tingkat kepuasan di atas 60 persen. Sedangkan, Ahok memiliki tingkat kepuasan hingga 74 persen. “Namun, dia kalah,” kata Marcus seperti ditulis Tempo.co, 23 April 2017.  

***

 

Nazmi Haddyat Tamara adalah Data Analyst dan Statistician Katadata. Saat ini, dia mengisi posisi tim Data pada divisi Riset dan Data Katadata. Menempuh pendidikan pada jurusan Statistika dan telah berpengalaman dalam pengolahan dan analisis data pada berbagai topik.

 

Catatan:

Data jumlah suara pada putaran pertama diperoleh dari rilis resmi KPU DKI Jakarta. Data pendukung lainnya adalah proporsi populasi warga setiap kelurahan berdasarkan agama diperoleh dari data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Jakarta pada 2013 dan 2014.