17 April 2017 | 09:40
Nazmi Haddyat Tamara
Data Analyst Katadata
Medan Terpanas Perebutan Suara Ahok vs Anies di Ronde 2
Dari total 265 kelurahan, sebanyak 76 kelurahan merupakan medan berat bagi kedua pasangan calon untuk memperebutkan suara. Wilayah ini menyumbang jumlah suara tinggi, namun selisih suara kedua pasangan tidak berbeda jauh.

 

Sejumlah lembaga survei telah merilis hasil jajak pendapat atas elektabilitas dua pasang kandidat gubernur dan wakil gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta menjelang pemilihan putaran kedua pada 19 April 2017. Hasilnya, elektabilitas kedua pasang kandidat berbeda tipis. Umumnya menempatkan pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno lebih unggul dibandingkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat. 

Jika mengacu pada Pilkada putaran pertama, Ahok-Djarot sulit ditandangi oleh Anies-Sandi pada 51 kelurahan. Pada wilayah ini, Ahok telah memperoleh lebih dari 50 persen suara. Wilayah ini umumnya merupakan kawasan dengan beragam agama, beberapa kawasan elit dan tidak padat penduduk. Sedangkan, Anies sulit dikalahkan di 20 kelurahan lantaran  sudah memperoleh lebih dari 50 persen suara dan umumnya merupakan kawasan yang menjadi basis agama Islam.

Di luar 71  kelurahan tersebut, persaingan kedua pasangan akan cukup ketat karena suara masing-masing pada putaran pertama masih di bawah 50 persen. Pada putaran kedua, perebutan suara diperkirakan akan semakin panas pada daerah-daerah dengan sejumlah indikator berikut. Pertama, perolehan suara masing-masing belum mencapai 50 persen suara. Kedua, selisih suara kedua pasangan calon tidak lebih dari 10 persen. Ketiga, jumlah suara di kelurahan tersebut melebihi suara rata-rata di kelurahan Jakarta. Artinya, kelurahan ini akan menjadi penyumbang suara cukup besar bagi masing-masing calon.  (Adu Program Ahok vs Anies)

Dari sejumlah indikator tersebut, terdapat 76 kelurahan yang memenuhi semua indikator dan tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Sebagian besar dari wilayah ini merupakan kelurahan dengan populasi warga muslim berkisar antara 83 – 91 persen. Kendati hanya sepertiga dari total 265 kelurahan di seluruh Jakarta, namun ke-76 kelurahan yang umumnya tergolong padat penduduk ini menyumbang 44 persen dari seluruh suara di Jakarta. Karena itu, wilayah ini akan menjadi medan terpanas yang akan diperebutkan oleh Ahok-Djarot melawan Anies-Sandi.

Kawasan Jakarta Timur merupakan wilayah dengan medan pertempuran paling panas. Ada 33 kelurahan yang diprediksi menjadi tempat bersaing ketat kedua calon di putaran kedua. Kelurahan tersebut tersebar pada 10 kecamatan yakni Cakung, Cipayung, Ciracas, Duren Sawit, Jatinegara, Kramatjati, Makasar, Matraman, Pasar Rebo, dan Pulogadung. Pada putaran pertama, perolehan suara rata-rata dari masing-masing pasangan calon adalah 41,36 persen untuk Anies dan 38,97 persen untuk Ahok dengan potensi suara pada wilayah ini mencapai 998 ribu.

 

Selanjutnya kawasan Jakarta Selatan, terdapat 19 kelurahan yang tersebar pada 6 kecamatan yakni Jagakarsa, Cilandak, Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, Pasar Minggu dan Pesanggrahan. Pada putaran pertama, Anies mampu menang dengan rata-rata 42,5 persen suara, namun pada wilayah ini kedua pasangan bersaing cukup ketat dengan selisih suara kurang dari 1 persen. Di sisi lain, potensi suara yang diperebutkan mencapai 535 ribu. 

 

Bergeser ke wilayah Jakarta Barat, hanya ada 8 kelurahan yang diprediksi akan menjadi medan berat bagi kedua calon. Kelurahan tersebut tersebar di Cengkareng, Kalideres, Kebon Jeruk, Kembangan dan Palmerah. Pada putaran pertama, Jakarta Barat menjadi basis suara Ahok-Djarot. Dari 55 kelurahan, pasangan nomor dua ini mampu menang di 41 kelurahan dengan 29 di antaranya memenangkan lebih dari 50 persen suara. Tidak heran jika hanya ada 8 kelurahan yang akan diperebutkan pada putaran kedua.

 

 

Di wilayah Jakarta Utara, terdapat 12 kelurahan yang akan menjadi medan ketat bagi kedua pasangan. Kelurahan tersebut berada pada 5 kecamatan yakni Penjaringan, Pademangan, Cilincing, Koja dan Tanjung Priok. Potensi suara dari ke-12 keluarahn ini mencapai 381 ribu suara atau menyumbang hingga 7 persen dari total suara Jakarta. Pada putaran pertama, kedua pasangan bersaing sangat ketat dengan perolehan suara dari masing-masing pasangan, rata-rata sebesar 40,59 persen untuk Ahok-Djarot dan 40,86 persen untuk Anies-Sandi.

 

 

Akan halnya, Jakarta Pusat menjadi wilayah dengan medan persaingan ketat paling sedikit dibandingkan wilayah lainnya. Hanya ada 4 kelurahan yang memenuhi indikator-indikator di atas yakni Johar Baru, Tanah Tinggi, Cempaka Putih Barat dan Cempaka baru. Namun demikian, suara pada kelurahan tersebut masih di atas rata-rata dan layak untuk diperebutkan.

Sedangkan, untuk kepulauan seribu, perolehan suara cukup berimbang. Bahkan, satu kelurahan berhasil dimenangkan oleh pasangan Agus-Sylvi. Ahok-Djarot berhasil memenangkan 3 dari 6 kelurahan yang berada di wilayah ini dengan selisih cukup jauh. Dua kelurahan lainnya dimenangkan oleh Anies-Sandi dengan selisih cukup tipis. Namun demikian, potensi suara di wilayah Kepulauan Seribu terbilang minim yakni berjumlah 90 ribu atau hanya menyumbang 1,6 persen terhadap total suara Jakarta.

Pada analisis mengenai efek isu agama terhadap preferensi pemilih di Jakarta, ditemukan bahwa  wilayah dengan persaingan ketat merupakan kelurahan dengan proporsi penduduk muslim berkisar antara 83 – 91 persen. (Baca: Benarkah Isu Agama Berpengaruh di Pilkada Jakarta?)

Pada putaran kedua, kedua pasangan akan bertarung ketat pada puluhan kelurahan dengan basis dukungan yang berimbang dan selisih suara tidak jauh berbeda. Sebagian besar dari wilayah tersebut merupakan kelurahan dengan potensi suara melebihi rata-rata kelurahan Jakarta yakni 207 ribu suara per kelurahan. Untuk memenangkan pertarungan, kedua pasang calon tentunya akan menjadikan wilayah-wilayah ini sebagai kawasan strategis untuk mendulang suara cukup besar.

 ***

 

Nazmi Haddyat Tamara adalah Data Analyst dan Statistician Katadata. Saat ini, dia mengisi posisi tim Data pada divisi Riset dan Data Katadata. Menempuh pendidikan pada jurusan Statistika dan telah berpengalaman dalam pengolahan dan analisis data pada berbagai topik.

 

Catatan:

Data jumlah suara pada putaran pertama diperoleh dari rilis resmi KPU DKI Jakarta. Data pendukung lainnya adalah proporsi populasi warga setiap kelurahan berdasarkan agama diperoleh dari data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Jakarta pada 2013 dan 2014.