10 April 2017 | 23:49
Heri Susanto
Direktur Riset Katadata
Benarkah Isu Agama Berpengaruh di Pilkada Jakarta?
Di sebagian besar kelurahan yang dihuni oleh lebih dari 91 persen warga muslim, Anies menang. Sedangkan, di kelurahan dengan penduduk beragam, Ahok menang. Dimana kedua pasangan ini bertarung ketat?

 

 

Pada 19 April 2017, pemilihan umum kepala daerah Daerah Khusus Ibukota Jakarta akan kembali digelar untuk putaran kedua. Menjelang pemilihan tersebut, isu agama tampaknya masih akan membayangi pertarungan kedua pasang kandidat, yakni pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat melawan Anies Baswedan – Sandiaga Uno. Setidaknya, topik ini kerap diungkit dalam diskusi di grup media sosial dan spanduk yang sempat terpampang di beberapa sudut jalan di Ibukota.

Pada putaran pertama Pilkada Jakarta, persoalan agama ini telah membetot perhatian cukup luas dari berbagai kalangan. Baik dari para politisi dan petinggi partai, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga kandidat yang bersaing untuk menjalankan roda pemerintahan DKI Jakarta. Tak terkecuali bagi lembaga survei. Lembaga survei menengarai ada sinyal yang tidak sejalan antara kepuasan warga Jakarta terhadap pemimpinnya dan putusan mereka dalam memilih kandidat gubernur dan wakil gubernur Jakarta. 

Berkaca pada hasil survei berbagai lembaga, tak bisa dimungkiri, sebagian besar warga Jakarta menyatakan puas terhadap kinerja Gubernur Basuki dan Wakil Gubernur Djarot. Sebut saja misalnya hasil survei Charta Politika pada 17-24 Januari 2017, sebanyak 68,5 persen warga DKI puas dengan hasil kerja pasangan petahana. Hasil survei Indikator Politik Indonesia juga menyebutkan sekitar 73,4 persen warga DKI puas terhadap kinerja Ahok. Begitupun survei Kompas pada Desember 2016, sekitar 70 persen warga kelas menengah Jakarta puas dengan kinerja pemerintah provinsi DKI. Kepuasan mereka terkait dengan penanganan banjir, masalah sampah, serta perbaikan layanan birokrasi.

Ironisnya, kepuasan warga DKI tersebut ternyata tidak mampu mengangkat elektabilitas pasangan calon petahana dalam Pilkada putaran I pada Februari 2017. Pasangan Ahok-Djarot memperoleh suara sebesar 42,96 persen. Angka ini tidak terpaut jauh dengan pesaingnya, Anies Baswedan – Sandiaga Uno yang meraih 39,97 persen. Sedangkan, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni jauh di bawah dengan perolehan suara sebesar 17,06 persen.

Dengan perolehan suara sekitar 43 persen tersebut, sebagian umat Islam memang memilih Ahok-Djarot pada putaran pertama. Namun, selisih yang cukup tinggi antara tingkat kepuasan kinerja dengan perolehan suara, menurut Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi menunjukkan ada sebuah gejala doublethink pada sebagian pemilih di Jakarta. Artinya, antara kepala dan hati sebagian warga DKI terbelah. Di satu sisi, mereka mengaku puas atas kinerja Ahok-Djarot. Namun, hati mereka sulit menerima pasangan ini untuk memimpin Jakarta kembali.

Hasil exit poll Indikator Politik Indonesia pada 15 Februari 2017 menemukan adanya gejala doublethink tersebut. Gejala itu terdeteksi di kalangan pemilih muslim, berasal dari suku Betawi dan Sunda, berpendidikan SLTA, pendapatan Rp 2- 4 juta per bulan, serta mayoritas tinggal di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.  Sejatinya, mereka puas dengan kinerja Ahok, namun faktor emosional terkait ucapan Ahok tentang Al Maidah berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih pasangan calon gubernur – calon wakil gubernur.

 

Data yang kami olah dari hasil perolehan suara ketiga pasang kandidat di putaran pertama dikombinasikan dengan jumlah populasi warga muslim di setiap kelurahan mengkonfirmasi temuan dari hasil exit poll Indikator Politik tersebut. Hasil kombinasi kedua data ini menunjukkan bahwa pasangan Anies-Sandi cenderung menang di kelurahan yang menjadi basis warga muslim. Buktinya, pada 20 kelurahan dengan jumlah penduduk muslim lebih dari 91 persen, pasangan Anies-Sandi memperoleh suara lebih dari 50 persen. 

Dominasi Anies di kelurahan yang menjadi basis warga muslim juga cukup mencolok. Untuk sebagian besar kelurahan di Jakarta, Anies memang tidak mampu menandingi Ahok. Namun, khusus pada 99 kelurahan yang dihuni oleh lebih dari 90 persen warga muslim, pasangan Anies-Sandi mampu mengalahkan Ahok-Djarot pada lebih dari 82 kelurahan atau 83 persen. Dari jumlah itu, sebanyak 70 persennya terpusat di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, sisanya tersebar di Jakarta Barat, Pusat, Utara dan Kepulauan Seribu.

Kawasan di Jakarta Selatan yang menjadi basis suara Anies-Sandi, terutama berada di wilayah Tebet, Pancoran, Mampang Prapatan, Pasar Minggu dan Jagakarsa. Sedangkan, di Jakarta Timur, yang menjadi kantong suara pasangan Anies-Sandi adalah Matraman, Kramatjati dan Cakung. Di Jakarta Pusat, dominasi suara warga muslim yang menopang pasangan Anies-Sandi bertempat di Tanah Abang dan Kemayoran. Kelurahan Petamburan yang menjadi markas FPI termasuk bagian dari kawasan Tanah Abang yang dimenangkan oleh Anies.

Sejumlah kelurahan tampaknya bakal sulit dikalahkan Ahok-Djarot. Misalnya di Mampang Prapatan, Pancoran, Tegal Parang, Kebon Baru, Kalibata dan Bukit Duri. Dihuni oleh lebih dari 93 persen warga muslim, Anies mampu meraup lebih dari 55 persen suara di kawasan ini.

Akan halnya kantong suara pasangan Ahok-Djarot, lebih banyak berbasis di kelurahan dengan komposisi penduduk yang memiliki keragaman agama, kendati umat Islam tetap mayoritas di wilayah ini. Secara keseluruhan di wilayah Jakarta, rata-rata jumlah penduduk muslim sebesar 83 persen dan nonmuslim 17 persen. Dengan perolehan suara pasangan Ahok-Djarot sebesar 43 persen, maka sedikitnya sekitar 26 persen warga muslim tetap memilih Ahok kendati diterpa kasus penodaan agama. 

 

(SIMAK: ADU PROGRAM AHOK VS ANIES DI PILKADA DKI)

Mengacu pada data perolehan suara dan jumlah pemeluk agama di setiap kelurahan di Jakarta, terlihat bahwa semakin kecil jumlah warga muslim, maka suara yang diperoleh Ahok-Djarot semakin tinggi. Pasangan Ahok-Djarot mampu meraup mayoritas (>50 persen) suara warga Jakarta pada 59 kelurahan atau tiga kali lipat dari Anies-Sandi. Bahkan, kemenangan Ahok atas Anies mencapai lebih dari separuh dari total jumlah kelurahan di Jakarta. Sebagian besar basis pendukung Ahok-Djarot terletak di wilayah Jakarta Barat, Pusat dan Utara. Sebagian kecil di Jakarta Selatan dan Timur.

Di Jakarta Barat, kantong-kantong suara pendukung Ahok terletak di wilayah Tambora, Taman Sari dan Grogol Petamburan. Di Jakarta Pusat, berada di kawasan Sawah Besar. Akan halnya di Jakarta Utara terletak di Kelapa Gading dan Penjaringan. Pada sebagian wilayah tersebut, Ahok-Djarot sangat sulit ditandingi karena mampu menguasai hingga lebih dari 60 persen suara di setiap kelurahan. Contohnya di Pasar Baru, Tangki, Jelambar Baru, Mangga Besar, Pejagalan, Gondangdia, Kelapa Gading Timur, Roa Malaka, Pluit dan Glodok.

Sedangkan di Jakarta Selatan, yang menjadi penyokong suara Ahok terletak di kelurahan dengan perkampungan elit, terutama di Kebayoran Baru (Melawai, Selong dan Pulo), serta di Setia Budi (Karet Semanggi dan Guntur). Menurut data statistik Jakarta, kawasan ini dikenal tidak padat penduduk dengan populasi rata-rata berpendidikan tinggi. 

Yang agak mengejutkan di sebagian kelurahan dengan mayoritas (>90 persen) warganya muslim, Ahok masih mampu mengalahkan Anies. Beberapa kelurahan tersebut terletak di berbagai wilayah Jakarta. Misalnya di Jakarta Selatan terletak di Bintaro, Ragunan, Gandaria Selatan, Petogokan, Petukangan Selatan dan Kebayoran Lama Utara. Sedangkan di Jakarta Timur berada di kelurahan Munjul dan Dukuh.

Pada putaran kedua, kedua pasangan akan bertarung ketat pada puluhan kelurahan dengan basis dukungan yang berimbang dan selisih suara tidak jauh berbeda. Wilayah ini merupakan kelurahan dengan proporsi penduduk muslim berkisar antara 83 – 91 persen. Sebagian besar berada di wilayah Jakarta Timur, terutama di kecamatan Cipayung, Kramatjati dan Jatinegara. Di Jakarta Selatan berkisar di Kebayoran Lama, seperti Pondok Pinang, Grogol Utara, Grogol Selatan. Di Jakarta Pusat berlokasi di Johar Baru dan Cempaka Putih. Jakarta Utara berada di Cilincing dan Tanjung Priok.

Sebagian besar dari wilayah tersebut merupakan kelurahan dengan tingkat kepadatan penduduk melebihi rata-rata Jakarta sebesar 21,9 ribu jiwa per kilometer persegi. Untuk memenangkan pertarungan, kedua pasang calon tentunya akan menjadikan wilayah-wilayah ini sebagai kawasan strategis untuk mendulang suara cukup besar.

***

Heri Susanto adalah Co-founder Katadata. Saat ini, dia menjabat sebagai Direktur Riset dan Data Katadata. Selama lebih dari 15 tahun sebelumnya, Heri berkecimpung sebagai jurnalis ekonomi dan bisnis, serta pernah bekerja di perusahaan riset. 

Analisis atas data ini dibantu oleh Nazmi Haddyat Tamara, Statistician Katadata

Catatan:

Data proporsi populasi warga setiap kelurahan berdasarkan agama diperoleh dari data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Jakarta pada 2013 dan 2014. Data yang diakses dari website data.jakarta.go.id ini terakhir diperbarui pada Agustus 2016. Selain data populasi berdasarkan agama, juga digunakan data pendukung berupa data populasi warga Jakarta berdasarkan tingkat pendidikan dan kepadatan penduduk.